Langsung ke konten utama

Sebuah awal baru didekatmu..


Memang terdengar absurd !
tapi itulah kita, hanya dengan sapa yang teretas dikala pagi dan senja yang menjemput, kau dan aku tiba-tiba menjadi dekat.
Perlahan tapi pasti “endapan” rasa itu telah membentuk gugusan bintang warna-warni yang memamerkan binar-binar ceria.

Tapi, kalau boleh aku bertanya ; begitu bermaknakah perjumpaan nyata buatmu? Kita beradu pandang tanpa sekat dan waktu, mengeja dalamnya diri dengan praduga. Ahhh.. tidak juga ternyata.
Hanya lewat sapa yang meretas dikala senja menjelma dan disaat mata terantuk di ujung kantuk, hadirmu sudah melebihi adanya, setidaknya itulah persepsi yang kucipta.

Lalu kucari cari jejak mu dimanapun itu, tanpa ragu. Meski hanya sekedar bayang yang kucetak dalam lamunku. Mengapa hadirmu yang secepat embun itu menancapkan gelisah hingga aku tak mampu melukiskan kekuatan apa sebenarnya yang telah menggerogoti perasaanku ?!

Ternyata rasa itu datang tanpa rencana. Tahu tahu hadirmu yang sekejap menguras anganku tunduk dalam syahdunya kata-kata keindahan.
Tentangmu, ternyata !
Tak ingin kulari, tak ingin kuingkar. Sama saja kukhianati diri bila itu kulakukan, mengapa? Ehmmm aku tak perlu bertanya. Semestinya , biarkan saja semua mengalir seperti air dan berhembus seperti angin. Air yang selalu mengalir menuju muaranya, dan angin yang setia menggelitik dedaunan dengan senandung riuhnya.

Itulah kita !
Menggugat cerita begitu saja. Tak peduli hari telah mengetuk dibibir pagi. Tak peduli jemari kita yang belum saling menggenggam sampai detik ini. Yang kutahu cerita ini ada.


 Hari ini , jejak baru ingin ku pijak. Seketika menemukan Teduh pada dua bola matamu. Segumpal Ceria ku teguk dalam haus bisu , aku kini di dekatmu !

Getar itu membaur dalam desah bilur syahdu mengeram dalam hasrat.
Tapi, luka ini masih menganga.
Penantian yang kujerat , ditelan mimpi kosong tak berjawab.
Lara dan pedih di ujung tangis yang tak berair. Masa lalu pahit tak lelah menghantui barisan hari.

Rasanya , ingin segera kutumpahkan segalanya pada pundak jumawa yang rela menyambutku tanpa tanda Tanya merajuk.
Mungkinkah? Sementara ragu mengulum dambaku kembali tiada,
hadirmu menggugahku untuk tertawa tiba-tiba. Menciumi bahagia meski baru sekejap.
Mungkinkah?
Perjumpaan sesaat ini menjadi awal yang menuntun getar pada tali kasih ? menjadi dua tiang dan jembatan tanpa sebab. Menyemai arti, menggamit mimpi.
Bersamamu, didekatmu !

Kau hadir dengan segala tingkah lugumu, memasungku dalam gugusan asa baru, mengharap rindu meluluhkanku lagi.

Bersamamu, Didekatmu !











@moccachinta


Komentar

Postingan populer dari blog ini