Langsung ke konten utama

Membicarakan JODOH :)




Pertama aku ingin mengucapkan terima kasih pada sahabatku Elvira Latif karena ia telah memperkenalkanku dengan karya-karya Ahmad Rifa’i Rif’an, penulis dengan tulisan-tulisan yang menggugah hati, terutama saya sebagai muslimah. Perempuan yang beragama islam. Aku baru memiliki satu buku karyanya, selanjutnya mungkin aku akan berburu karya-karya Dia lainnya di toko buku terdekat dari tempat tinggalku

Buku ini berceritra tentang bagaimanakah sebenarnya jodoh kita, jodoh yang dipersiapkan Tuhan untuk diri kita.

Ada beberapa pertanyaan yang disertai jawaban dari tulisan Ahmad Rifa’ i Rif’an dalam buku itu begini ;

 “ Bagaimana kita tahu bahwa orang tersebut adalah jodoh kita ? Apakah ada tanda-tanda atau petunjuk bahwa orang-orang tersebut adalah kekasih dari Allah yang sudah dipersiapkan untuk diri kita ???

Jodoh memang misteri, tetapi ada tanda-tandanya . Salah satunya saat semua orang bertanya “ Apa yang kau sukai dari dia ? kau tersenyum dan menjawab “ Aku tak tahu”. Yang kutahu hadirnya dia adalah bahagiaku dan hadirku adalah bahagianya, Hadirnya telah membuatku dekat dengan Tuhanku. Yakinlah, Itulah jodohmu. Indah bukan ??

Jika ada seseorang yang membuat kau merasa bahagia saat bersamanya, dia bahagia saat bersamamu dan kalian sama-sama takut bermaksiat pada-Nya, langsung resmikan saja. Jangan tunda-tunda lagi. Mengapa ??karena ketika kita menunda nunda pernikahan artinya kita menunda-nunda perbuatan baik. Dan penundaan melaksanakan ibadah adalah sesuatu yang tidak dianjurkan oleh agama. Semoga dengan menyegerakan pernikahan.
Lagi pula, bukankah sayang jika kita sudah dikaruniai seseorang yang sesuai dengan karakter kita yang dimana kita cocok bersamanya , yang juga menjadi motivator kita dalam beribadah kepada-Nya, tiba tiba kita sia-siakan begitu saja karena penundaan yang kita lakukan. Bukankah bisa jadi kesempatan baik tersebut akan hilang karena seiring berjalannya waktu, akan ada saja peluang ujian dan masalah yang hadir. Jangan sampai karena penundaan yang kita lakukan pada akhirnya kesempatan baik itu diambil oleh Allah. Jangan sampai penundaan yang kita lakukan, kita justru menyesal pada akhirnya.

“ Apakah kriteria paling sesuai untuk kita jadikan patokan di awal saat hendak memilih kekasih/ pendamping yang akan mendampingi kita nantinya ? ilmu agama, kecantikan, ketampanan, baik nasabnya atau indah akhlaknya ??

 Kalau bisa semua dari kriteria yang kau sebutkan itu ada dalam diri kekasihmu. Bukankah itu yang disarankan oleh rasulullah ?? Pilihlah yang baik nasabnya, indah parasnya, baik finansialnya indah akhlak dan agamanya.

“ Bukankah Cinta itu tak menuntut kriteria yang rumit-rumit pada yang dicintainya ? Bukankah cinta itu bersedia menerima keadaan kita apa adanya ??

Tidak ada cinta yang menerima apa adanya, cinta selalu mengharapkan perbaikan diri, perbaikan sikap, perbaikan hati. Cinta selalu mendamba kebaikan bagi yang dicintainya. Jika dia mencintaimu apa adanya, sungguh percuma kau dicintai olehnya. Karena dia tak berperan sama sekali dalam perbaikan hidupmu.
People always Change. Begitulah adanya, tidak dapat dipungkiri bahwa setiap orang akan terus berubah setiap saat baik fisik maupun kondisi lainnya dan sebaik-baiknya perubahan adalah kearah yang lebih baik. Manusia beruntung adalah yang hari ini lebih baik dari kemarin. Tanamkanlah sikap pembelajar jiwa yang tak pernah puas dengan kapasitas diri, jiwa yang terus memperbaiki diri dari hari ke hari. Dengan hal itu maka keluarga yang terbentuk nantinya akan menjadi masyarakat yang berkualitas, semakin berkembang potensinya dan makin baik karakternya.

“ Bukankah pernikahan itu butuh persiapan. Kadang Nikah tidak sesederhana yang dipikirkan. Nikah itu hal yang besar dan tidak bisa digampang-gampangin. Bukankah lebih baik kalau kita menyiapkannya dulu dengan matang baru bersiap untuk hidup berumah tangga ?

Benar, Nikah itu perkara besar. Tidak boleh digampang-gampangin. Tapi tidak boleh diribet-ribetin. Jangan terlalu anggap mudah, tapi jangan juga terlalu dianggap sulit. Sebenarnya nikah dan berumah tangga itu mudah ketika dijalani dan dilaksanakan, kalau cuman dipikirin terus dan tak kunjung dijalani yaa bakal ribet terus.. !


“ Ada yang bilang, mencintai itu takdir dan menikahi itu nasib. Kalau begitu mengapa kita bersusah-susah mengupayakan cinta dan nikah kalau memang sudah takdir dan nasib ? Bukankah pasrah saja sudah cukup hingga takdir dan nasib itu tergapai ??

Setiap perkara yang sudah terjadi telah ditetapkan. Mencintai memanglah takdir, menikahi itu nasib. Namun kau harus yakin keduanya bisa diupayakan. Takdir dan nasib bisa di ubah. Maka ubahlah takdirmu dengan doamu. Upayakanlah cinta dan upayakanlah pernikahanmu, mencintai dan menikahi adalah jerih upayamu. Jangan pernah sedikitpun kau menyalahkan takdir.

Halaman demi halaman buku ini ingin cepat cepat kutamatkan dan akhinya selesai, banyak pelajaran yang dapat kutuai dari kado kecil nan indah dari sahabatku Elvira. Sahabat sejak aku menginjakkan kakiku ke fakultas kedokteran, teman se-angkatan yang pertama kukenal, masa-masa kuliah yang sungguh berkesan bersamanya.

Mungkin tidak semua isi tulisan dari buku tersebut dapat kulontarkan pada halaman blog pribadiku. Aku hanya memilah seminimalnya, karena 10 halamanpun sepertinya tak akan cukup.


“ Seorang pasangan itu bagaikan sepasang sepatu. Walau tak sama persis namun serasi, saat berjalan tak pernah persis berdampingan, tapi tujuannya Sama, Walau tak pernah bisa ganti posisi, namun saling melengkapi, selalu sederajat, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Bila yang satu hilang, maka yang lain tak punya arti “

Penyair terkenal mengatakan ini ;

“ Jangan kau kira cinta datang dari keakraban dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah putra dari kecocokan jiwa. Dan jika itu tiada, maka cinta takkan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan millennia “
( KAHLIL GIBRAN )


                                                                                                                        @moccachinta

Komentar

Postingan populer dari blog ini