Langsung ke konten utama

Satu untuk selamanya..





Puja dan Puji syukur yang tak henti-hentinya bertasbih dari relung hatiku yang paling dalam, satu peristiwa special di dalam hidupku telah terjadi, Seorang pria melamarku di depan Ibu dan pamanku sore itu, selepas menyantap hidangan buka puasa, Jum’at 19 Juni 2015. Sungguh betapa sulit menggambarkan perasaanku, jantungku kembang kempis, denyut nadiku meningkat, pernapasanku juga jadi tidak teratur, Kimia otakku menjadi tak karuan.

Pria ini…
Pria ini membuatku jatuh cinta berulang kali.

Pria yang dikenalkan oleh sahabatku, Pria yang menemuiku 2 tahun yang lalu, Pria yang tak pernah bisa menyatakan cintanya kepadaku, iya.. dia begitu sulit mengatakan cinta, tapi dia tahu soal cinta. Aku yakin dengan hal itu. Aku yakin dia paham bagaimana hatinya bekerja, aku yakin dia paham bagaimana rasanya bekerja terhadap rasaku, yaa rasanya bekerja pelan-pelan…
Dan Aku tidak memersoalkan itu.

Satu hal lagi yang aku yakini saat ini bahwa banyak sekali hal yang akan terungkap jika waktunya sudah tepat, terutama masalah jodoh. Yang dibutuhkan adalah jiwa-jiwa yang kuat untuk bersabar. Aku dan dia sama-sama menanti jodoh terbaik dari Tuhan kemudian pada Akhirnya kami saling menemukan dan berjanji untuk tidak saling melepaskan (lagi).


Bukan perjalanan singkat untuk saling mengenal satu sama lain, dua tahun yang begitu membahagiakan sekaligus mendewasakan. Di sisi lain juga menampar kami untuk berusaha jadi lebih baik. Dua tahun yang membuat hati kami sama-sama yakin untuk saling mengisi sampai hari tua kami, dua tahun yang membuat kami sama-sama yakin untuk saling berkasih sayang hingga maut memisahkan, dua tahun yang membuat kami sama-sama yakin untuk selalu saling menopang menghadapi dunia ini.
Dua tahun yang tidak pernah terlalu mudah bagi kami..

Si Kakak ( Baca ; Calon suami) yaa dia bukan tipe laki-laki romantis seperti laki-laki kebanyakan di luar sana, Apa dia akan memberi bunga jika hari kelahiranku tiba ? jangan harap dia akan melakukannya, dia akan mengucapkan selamat tidur atau selamat pagi dengan rayuan-rayuan ? jangan harap, itu bukan karakternya. Dia akan menyiapkan  makan malam romantis saat anniversary ? terlebih lagi, jangan berharap banyak, karena aku yakin kakak (dia) sama sekali tidak kepikiran untuk melakukan hal itu. Namun aku tetap menerima kakak dengan penuh kelapangan bahwa yaa inilah dirinya, aku juga tidak kepikiran untuk mengubahnya, memaksanya menjadi pribadi apa yang aku mau, karena itu sama saja aku menjalani hubungan dengan diriku sendiri bukanlah dirinya.

Aku tahu kakak akan membaca tulisan ini, yaa dia adalah pembaca setia tulisan-tulisanku, tentang apapun itu. Pernah suatu ketika kakak bilang “jika perempuan lain diluar sana bisa membuat pria jatuh cinta dengan kecantikannya, paras yang cantik, kemolekan tubuh yang di idamkan-idamkan laki-laki” tapi kamu membuatku jatuh cinta dengan semua tulisan-tulisanmu, di setiap kata dan paragrafnya. Jujur aku menganggap itu rayuan pertama kali darinya, hehehhe.. iya dia laki-laki yang tidak romantis.
Aku paling tahu dia.

Dulu Aku kembali berfikir, wah.. sementara aku jatuh cinta kepada laki-laki yang tidak romantis juga tidak begitu perhatian, bagaimana bisa aku menjalani semua ini. Sifat cuek kakak dulu bukan tanpa alasan karena memang dia punya kesibukan yang menuntut sikap professional, aku yang tadinya sulit mengerti menjadi perlahan-lahan paham dengan semuanya, yaa tidak semua bisa mendapatkan pekerjaan di tempat yang kita sukai oleh karena itu ketika kita diberi hal itu oleh Tuhan maka kita harus mensyukurinya dengan menjalani tanggung jawab sebaik mungkin. Dan bagaimanapun itu sebagai pasangan aku akan terus mendukungnya, mendukung kemana kakinya melangkah, melangkah meraih mimpi-mimpinya.

Sikap cuek kakak sebenarnya banyak membantuku, Dua tahun ini aku tumbuh hampir maksimal dengan semua kegiatan-kegiatanku diluar sana, urusan sekolah, urusan keluarga, bukan menjadi perempuan yang hanya bisa mengemis perhatian dari pasangannya, karena kalau hanya sekedar mengingatkan atau menanyakan sudah makan atau belum, aku rasa kami bukan anak-anak lagi. Hubungan kami membutuhkan power yang lebih dari sekedar manis-manisnya perhatian, lebih dari sekedar leganya karena habis melewati malam minggu, lebih dari sekedar nyamannya ketika bisa bertemu setelah 2 minggu mata kami tak saling bertukar tatap.
 Yaa.. ternyata aku butuh kakak lebih dari itu, aku butuh dia selamanya untukku…
Tak perlu dapat selalu bersama, serumah, setiap hari bisa melihat tingkah konyolnya, bukan.. Karena kakak harus berada di kota yang berbeda menjalankan tugasnya, dan aku pun disini menyelesaikan studyku.
Aku butuh dia memetakan mimpi-mimpiku,
Yaa, Aku butuh dia..
Aku butuh kakak.. (Baca ; calon suami)..

Kemudian akhirnya aku mengerti bahwa “Realisme itu jauh lebih penting dari pada Romantisme “ Romantisme belum tentu realisme, tapi realisme sudah pasti bagian dari romantisme.  Yaaa.. dia adalah laki-laki yang realisme bukan sekedar  romantisme. Dia akan romantis dengan caranya sendiri, Melamarku langsung di depan orangtuaku, keluargaku..

Anak laki-lakiku kelak harus mewarisi keberanian ayahnya, harus mewarisi ketangguhan Ayahnya.., Anak perempuanku kelak harus mewarisi kebijaksanaan ibunya. Pada bagian penutup  dari tulisanku kali ini “Pria hebat berani melamar, dia adalah priaku. Dan dunia harus tahu.



Bismillahirrahmanirrahim untuk Hari Bahagia yang sebentar lagi akan menjelang…


From this moment..
Our story begin….

                                                                               Cinta & Ayyub






Komentar

Postingan populer dari blog ini