Langsung ke konten utama

Kok, Belum Hamil ?


  
            Kok, belum hamil ?
            Udah, isi belum ?
            Udah nikah setahun,  Kok belum hamil sih ??
jangan lama-lama.

            Pertanyaan yang seakan-akan membuah hati tertohok begitu dalam. Bertemu orang-orang yang sudah lama dikenal, pertanyaannya selalu sama, hingga bertemu orang-orang baru, meski mereka awalnya belum tahu saya dan pak suami sudah menikah, pada akhirnya pun bertanya “ udah hamil ?” Seakan-akan mereka semua sudah ahli dalam urusan “bikin anak” dan Beranak.
entahlah, apapun itu.

            Siapa yang tidak menginginkan seorang anak ? terutama setelah pernikahan. Semua orang pasti menginginkan itu. Belum lagi desakan dari orangtua, mertua. Meski sebenarnya sih suami saya orangnya enjoy-enjoy aja dengan keadaan rumah tangga kami, yang belum diberi seorang bayi. Kami masih tidur seranjang, kami masih menikmati sarapan kami dengan hikmat setiap pagi, kami masih pulang ke rumah dengan sebuah ciuman di kening. Semua tetap baik-baik saja.

            Suatu malam, pak suami pulang ke rumah seperti biasa. Jam pulang kantor menjelang magrib, setelah membersihkan diri dan melaksanakan ibadah, kami meluangkan waktu bercengkrama sebelum tertidur pulas dan siap menghadapi hari esok. Mungkin diluar sana banyak cerita-cerita yang kurang baik untuk rumah tangga yang belum memiliki anak, mungkin katanya rumah tangga tersebut menjadi basi atau sepi tanpa kehadiran seorang anak. Mungkin banyak diluar sana juga yang beranggapan bahwa kejantanan laki-laki dibuktikan dengan mereka “harus” membuat hamil seorang perempuan. Berarti yang berhasil menghamili perempuan di luar ikatan pernikahan itu juga disebut jantan ?? Jangan menghakimi laki-laki yang sah sebagai seorang suami yang sedang berjuang untuk keluarganya, menafkahi lahir batin istri yang dicintainya, hanya karena dia belum memiliki keturunan.
           
            Tulisan saya ini mungkin mewakili 20 % wanita dimuka bumi yang mempunyai problematika hidup yang sama dengan yang saya alami sekarang. Kemana saja pergi, selalu dicecar pertanyaan “ Kapan hamil?
 Udah hamil ?”
Kok Belum hamil ? “

            Setidaknya masih sama dengan masa – masa kegadisan saya dulu yang kemana saja pergi, selalu ada pertanyaan “ Kapan nikah ?” Pacarnya mana ?” Kapan dilamar ?”  Seakan-akan mereka yang mau membiayai pernikahan kami. Ya tapi inilah Dunia.
            Menikah itu pilihan, Menikah itu juga adalah takdir, menikah adalah rezeki. diberi jika waktunya pantas, diberi jalan jika telah siap.
            Saya memilih menikah di usia 24 tahun.
            Tuhan menuliskan takdir hidupku menikah di usia 24 tahun.
            Memiliki anak itu pilihan, Memiliki anak juga adalah takdir.
            Saya ingin sekali memiliki anak, Tuhan belum memberi kami. Tuhan belum memberi kami rezeki itu, Tuhan belum memberi karena kami belum siap.

            Memiliki anak adalah tentang menghadirkan manusia baru ke dunia, manusia yang tidak berdosa, kehadirannya akan terasa lndah pada kondisi yang stabil, dari segi waktu, dan segala kesiapan. Ingatlah wahai perempuan di luar sana, Belum hamil- hamil juga tapi sudah menikah  dan memiliki suami itu sangatlah indah, Jangan dibalik ya :)







           

           

           
           
           

            

Komentar

Postingan populer dari blog ini