Langsung ke konten utama

A Struggle Or Drama ??


Setiap pasangan menjalani waktunya masing-masing, setiap pasangan menjalani rintangannya masing-masing, begitulah kata bijak yang sering berlalu-lalang di sosial media, kata-kata mutiara yang menjadi penyemangat di status facebook, twitter, path, Tatkala seseorang sedang stuck dengan masalah yang sedang dihadapi. Sebagai contoh, di Pernikahan misalnya.  Pernikahan bagi saya bukanlah seperti Drama korea yang ada di TV, ternyata pernikahan adalah sesuatu yang lebih kompleks. Saya masih ingat ketika suami meminta pendapat saya saat ia memutuskan mengajukan KPR rumah pertama kami kepada bank, banyak sekali pertimbangan yang kami lewati, sampai akhirnya kami memilih membeli rumah pertama kami di Sulawesi Barat dengan sistem KPR dengan suku bunga yang Flat di salah satu bank syariah. Ketika suami dinyatakan pindah oleh kantornya ke Makassar awal tahun 2017 , kami dengan senang hati berhijrah kesini, dan akhirnya mengontrakkan rumah itu kepada orang lain. Lalu, pertanyaannya pindah ke Makassar gak punya tempat tinggal dong ? Iya, jawabannya belum. Penghasilan dari rumah yang kami kontrakkan tadi, kami pakai untuk mengontrak rumah lagi di sini, ya sudah hampir setahunan lah kami hidup di kota Makassar tanpa bayang-bayang orangtua. Dalam hal ini, meninggalkan fasilitas yang disediakan orangtua. Jika dulu biasanya keluar aktifitas saya menyetir mobil sendiri, sekarang saya memilih naik kendaraan umum. Si putih dengan senang hati kukembalikan kepada mama. Ya sekarang sih lebih nyaman juga pakai grab, Go-Car, Go-Jek, udah gak perlu stress lagi pengen markir mobil dimana ketika sampai di puskesmas atau rumah sakit dan pada saat nyari-nyari alamat.
Ini bukan keinginanku, ataupun keinginan suami, melainkan keputusan kami bersama. Karena jika kami terus berada di zona nyaman, kapan kita akan berdikari ? lebih tepatnya berdiri di kaki sendiri. Meski tidak jarang Mama mertua dan ibu mengunjungi kami, ketika mereka punya waktu kosong. Keinginan ini sempat ditentang oleh orangtua kami, katanya kalau masih ada punya orangtua ngapain repot-repot nak, simpan saja uangnya untuk yang lain. “itu kata mereka”
Suami dan saya saat itu memberi pengertian kepada mereka, bahwa kalau kami tidak berusaha dengan cara kami sendiri, kapan kami bisa mandiri ?? Kapan kita benar-benar memahami arti kehidupan?  Toh, hidup ini bukan drama, suatu saat orangtua akan meninggalkan kita, dan kita harus berusaha sendiri menyiapkan segala sesuatunya.
Hidup ini bukan drama.

Contoh yang lain,  Jika sebelum menikah biasanya ketika kita punya uang di tangan kita tanpa pikir panjang langsung saja membelanjakan uang itu, toh kalau uang saya habis, atau ketika kita butuh sesuatu yang lain, gampang saja. Kita tinggal telepon atau minta langsung ke orangtua “Ma, pa, mau beli ini, tambahin duitnya dong, ataukah “ Ma, Pa.. mau Ini dong, Mau itu Dong… hehehe. Dulu saya orangnya demikian, Apalagi saya dan suami ini adalah anak bungsu, hampir semuanya papa mama saya mengiyakannya. Ternyata sikap dan kebiasaan ini tidak boleh dipakai lagi ketika saya telah menikah, dan sama sekali tidak akan berlaku. Ada rasa sungkan ketika harus menceritakan kesulitan ekonomi kepada orangtua, cukuplah semasa kecil hingga dewasa dan akhirnya menikah mereka mengeluarkan materi, bekerja demi mencukupi kebutuhan saya, ketika saya telah menikah saya bukan lagi tanggung jawab orang tua saya, melainkan menjadi tanggung jawab seorang suami.

Pernikahan ternyata mengajarkan kepada saya menjadi lebih selektif, selektif memilih barang-barang. Tidak semua barang diskon harus dibeli karena tidak semua barang diskon di toko-toko menjadi kebutuhan saya, bisa saja itu hanya keinginan sesaat hanyalah karena papan merah besar disitu tertulis diskon 70 % sehingga saya harus terjebak untuk membeli apa yang sebenarnya tidak pernah saya butuhkan. Alhamdulillah.. saya tipe orang kalau dibilang suka shopping sih tidak juga, kalau belanja kebutuhan sesuai dengan list belanja sih iya. Ya.. pemikiran simpelnya sih beli yang dibutuhin aja, apalagi kalau tanggal muda.. Toh hidup masih berjalan sebulan ke depan, Penghasilan suami adalah penghasilan pegawai negeri, bisa di ukur, dan bisa di hitung. Sungguhlah tak mengenakkan bagi saya jika menghambur-hamburkan nafkah hanya karena keinginan sesaat, padahal sebenarnya kelebihan itu bisa di investasikan untuk kebutuhan jangka panjang, kalau saya sih kelebihan bulanan lebih baik dipakai online trading, beli saham meskipun sedikit.
Pernikahan juga ternyata menjadikan saya sebagai penuntut, saya akhirnya menuntut suami melanjutkan pendidikannya. Awalnya  sih dia tidak mau, katanya repot musti ngerjain tesis dan segala macam tugas perkuliahan lagi. Tapi ku pikir itu cuma virus kemalasannya saja, Toh dia sekarang ada di zona nyaman. Sudah punya penghasilan sendiri, bisa dapat uang sendiri terkadang bisa bikin seseorang terhanyut dengan keadaan dan akhirnya melupakan ensensi kehidupan, bahwa sebenarnya hidup ini yang dibutuhkan adalah sikap yang ingin terus belajar tanpa henti, ya long life learning or long life study. Setelah proses bujuk-bujuk yang lama, sebut saja rayuan maut hahaha. Akhirnya dia mau melanjutkan Sekolah ke Pasca Sarjana, Alhamdulillah.. Ikut Tes dan Lulus di Konsentrasi Hukum Kesehatan. Ya.. kadang-kadang jadi istri harus menuntut, tapi nuntut yang baik-baik aja, semisal nuntut suami biar sekolah lagi, biar ada teman diskusi kalau di rumah, biar aktifitas minum teh setiap weekend tidak membosankan, kita jadi bisa bertukar cara pandang mengenai isu-isu terkini. Karena kalau cuma ngabisin weekday dengan masing-masing main gadget kan hidup ini juga akan hambar. Karena Perempuan butuh teman diskusi yang bisa membangkitkan mini orgasme dalam dirinya.

Suami sekolah lagi, berarti butuh biaya lagi ? ya memang benar. Pendidikan memang membutuhkan biaya, apalagi era sekarang biaya pendidikan makin hari makin melambung tinggi. Maka dari itu sih sebaiknya selagi sehat, selagi masih bisa menyisihkan uang, tidak ada salahnya untuk melanjutkan sekolah lagi. Ya..  Sebagai istri yang suaminya melanjutkan pendidikan, saya harus rela menyisihkan uang minum greentea, uang membeli tas baru, menyisihkan uang beli jilbab baru, ya.. menyisihkan uang-uang kecil demi biaya pendidikan suami, Jangan heran kalau setelah menikah saya menjadi tidak modis, hehehe.. jarang belanja-belanja sih. Pengen ngerubah gaya hidup ke hidup yang lebih minimalis, lebih banyak investasi aja dari pada beli liabilitas, kalau ngikutin mode sih gak pernah ada habisnya, ya.. yang biasa-biasa aja. Kalau istilah sekarang Dunia Jie ini :D. Karena saya berfikir dengan dia bersekolah dan berhasil dalam pendidikannya maka itu akan memudahkan saya mendapatkan tas baru, jilbab baru dan yang lainnya dikemudian hari. Ya.. pendidikan juga termasuk investasi, investasi jangka panjang.

Hidup ini memang misteri, tidak pernah bisa kita ditebak bagaimana akhir ceritanya, bagaimana klimaks di pertengahannya, menjalaninya dengan struggle atau Drama, keduanya adalah pilihan masing-masing orang. Setiap masalah yang kita punya ataupun yang sedang kita hadapi bagi saya bukanlah sesuatu yang harus kita ratapi secara dramatis, karena setiap orang di dunia ini sudah diberikan permasalahan sesuai dengan kesanggupannya, ya Tuhan tidak akan memberikan masalah, jika kita tidak sanggup memikulnya. Tuhan tidak pernah memberi lebih dari yang dapat kita pikul. Sungguh sangatlah penting tentang bagaimana kita memaknai hidup ini ke depan, bagaimana cara kita tetap struggle menghadapi segala hambatan dan rintangan kehidupan ini.

Dalam hidup ini banyak sekali kesulitan, saya pun memercayai itu. Karena jika semuanya menjadi mudah, maka tidak adalagi tangan yang menengadah ke atas untuk meminta kepada sang pemilik alam semesta, karena jika segalanya mudah maka mungkin mahluk Tuhan akan begitu angkuh berjalan di semestaNya, Hidup ini benar-benar sulit, percayalah..
Semua orang butuh kebijaksanaan menghadapinya agar bisa berdamai dengan dirinya dan kenyataan.

Apa pilihanmu 
A Struggle or Drama ??

Tentukanlah sekarang.









Komentar

Postingan populer dari blog ini