Langsung ke konten utama

Tak perlu malu mengunjungi Psikiater.


             Seorang konselor pernah bilang kepada saya, “ Beberapa orang di dunia ini hadir dalam keadaan rapuh ” Tubuhnya lebih mudah lebam, lebih mudah menangis, kata-katanya sangat menyentuh perasaan saya, karena ternyata saya adalah salah satu diantaranya. Saya dan suami akhirnya memutuskan mengunjungi seorang Psikiater yang juga seorang konselor ( Seorang yang memberikan konseling tentang keluarga) diawal tahun kemarin, kami memiliki banyak tekanan, karena beberapa peristiwa yang kami alami, Kami mengalami banyak kebahagiaan seiring dengan kesedihan itu. Kami tidak berpegang erat pada salah satunya, karena keadaan pastilah berubah. Ketika Kami harus kehilangan calon bayi pertama kami, saat itu saya pulang dari rumah sakit, sehabis menjalani tugas jaga. Di rumah saya mengalami kontraksi hebat saat Dini hari, nyeri perut yang menusuk-nusuk hingga ke punggung dan panggul belakang, saya rasanya ingin pingsan, penglihatan tiba-tiba menjadi hitam, keringat dingin, dan gemetar. Suami saya segera membawa saya ke IGD, dan sehabis menjalani banyak pemeriksaan, Dokter Kandungan menyatakan saya terkena K.E (Kehamilan Ektopik).  Sudah hampir 3 minggu saya tidak mengalami menstruasi, namun karena kesibukan bersekolah di stase Bedah, saya lupa untuk sekedar memeriksa diri sendiri, Beruntung Kehamilan ektopik ini tidak sampai mengakibatkan saluran tuba fallopiku pecah dan harus diangkat, karena perkembangan embrio yang bukan pada tempatnya, saya baik-baik saja setelah menjalani operasi untuk mengeluarkan embrio kami, namun harus menjalani fisioterapi karena ekstremitasku tidak bisa merasakan rangsangan, yang mengakibatkan saya harus menjalani MRI dan sejumlah pengobatan.
            Post K.E atau kehamilan ektopik Dokter menyarankan kami untuk melakukan program kehamilan, saya disarankan untuk tidak hamil dulu selama 6 bulan sampai 1 tahun ke depan, Diharapkan semoga penyembuhan tuba fallopinya lebih cepat dari dugaan, agar K.E tidak terulang lagi, Karena sangat membahayakan bagi nyawa si Calon Ibu. Dokter menyarankan kami untuk rutin memeriksakan kandungan saya ke dokter setiap 3 bulan, ya Kami sedang hidup dalam pantauan Dokter. Desember hingga januari kemarin adalah bulan-bulan yang mengharuskan saya keluar masuk rumah sakit.
Saya meyakinkan suami saya bahwa semuanya akan baik-baik saja, Yang selalu saya bilang “ Tenanglah, ini tidak akan lama.
“Kita menikah untuk Hidup ini”
            Bagi saya hidup adalah suatu seri masalah, disaat kita berada dalam suatu masalah ataukah baru saja keluar dalam suatu masalah, maka bersiap-siaplah untuk memasuki masalah lain. “ Kita menikah bukan untuk bahagia” Kita menikah untuk hidup ini”  Karena kebahagiaan itu tidak selalu dibungkus dengan pita, indah, dan sesuai keinginan. Bisa jadi kebahagiaan itu kemas oleh Tuhan dalam bentuk masalah dan kesedihan.
            Konselor kami bilang “ Sang maha pencipta telah merancang beberapa orang untuk memikul lebih banyak dari pada yang lain. Beberapa dari mereka perlahan-lahan diberi tahu bahwa mereka dipilih untuk ini “ Memikul lebih banyak”  Jika dalam kehidupan ini kita mengalami banyak kesulitan , diri kita memang telah di desain untuk menanggungnya. Ya.. “ Tuhan tidak memberi lebih dari yang dapat kita pikul “
            “ Beberapa dari kita diminta untuk memanggul lebih banyak dari orang lain” 

            Saya melihat perubahan yang baik terhadap suami saya, setelah kejadian ini dan setelah kami mengunjungi konselor, sedikit banyak telah mengubah cara pandang kami, kami dapat melihat kesulitan yang kami alami sebagai suatu hadiah dan kebaikan. Semenjak 10 bulan ini Suami saya banyak berubah, dia semakin giat bekerja, Dia lebih perhatian dari sebelumnya, saya merasa dia terlalu berlebihan kadang-kadang, dia membantuku mengerjakan pekerjaan rumah yang tidak sempat ku kerjakan, dia lebih sering di rumah, dia bangun lebih awal dari saya, dia memberikanku waktu istirahat yang lebih banyak ketika hari libur, Pernah suatu hari dia pamit untuk ke toko buku dan membelikan saya buku-buku bacaan yang baru, dia membelikanku majalah bobo, ada-ada saja, tapi saya bahagia karena sangat suka dengan majalah itu, dia tidak pernah lupa membelikan makanan kesukaanku saat pulang kerja dan tidak pernah lupa menanyakan itu ketika hendak meninggalkan kantor, setiap malam minggu kami keluar menonton film-film baru, minum kopi, makan di pinggir jalan, Meski memang pada dasarnya  dia lebih manja dari pada saya, dia tidak pernah bisa tidur kalau badannya tidak dilumuri dengan penghangat seperti minyak gosok,  dia selalu meminta itu,  dia memberikan waktunya lebih banyak dari yang saya harapkan. Saya merasa dia menjadi lebih mencintai saya. Dia jauh lebih baik dari sebelumnya, 10 bulan sudah berlalu sejak kejadian itu, Sebuah kesulitan yang menjadi kebaikan untuk kami, Kini hidup kami jauh lebih baik.
            Entahlah“ Mungkin inilah cara Tuhan membuat kami lebih erat, Kesulitan itu ternyata menjadi perekat bagi kami.

            Saya tidak selalu bisa mengerti cara kerja Tuhan dalam hidup saya, tetapi sampai saat ini saya masih berdoa dan beribadah kepadaNYA. Saya tidak mengerti cara listrik bekerja, tetapi saya tidak membiarkan ketidaktahuan itu membuat saya hidup dalam gelap. Saya tidak harus mengerti pada Tuhan, untuk dapat percaya kepadaNYA. Saya percaya matahari bahkan ketika dia tidak bersinar”

“ Saya percaya pada cinta bahkan ketika saya tidak bisa merasakannya, Saya percaya pada Tuhan sepenuhNYA, Bahkan ketika DIA diam saja.


            Hari ini adalah jadwal kami mengunjungi konselor, kami senang karena menjadi tahu apa-apa yang membuat kami resah, apa-apa yang membuat tidur kami tidak nyenyak, tahu apa-apa yang tidak perlu kami cemaskan dalam hidup ini, Konselor kami membantu kami melewatinya. Tak perlu malu, karena sebagian orang diberi waktu untuk belajar lebih banyak dari apa yang tidak kita pelajari, dan kita harus mencari tahu apa yang belum kita ketahui, termasuk menaklukkan diri sendiri.


Selamat menjalani hari ini.

@moccachinta

            

Komentar

  1. Keep strong, dear Chinta.
    Emang gak ada salahnya koq mengunjungi psikiater atau psikolog. Kan setiap orang punya kemampuan menyelesaikan masalahnya dengan cara yang berbeda.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini