Langsung ke konten utama

Untuk Ayyub, Suamiku...

Suamiku...

Di dua tahun ini saya bersamamu, saya bisa menjadi apa saja untukmu, menjadi sahabat, teman, pacar, adik, ibu bahkan saya bisa menjadi bos besar yang sangat menyebalkan dan mengesalkan untukmu.
Di dua tahun bersamamu, kamu juga bisa mengganggapku apa saja, karena saya bisa menjadi koki dadakan, bisa menjadi tukang urut, hair stylish, fashion designer untukmu.

Kalau haidku sedang nyeri, meski kamu tak selalu paham mengapa, saya selalu berkonsultasi denganmu kapan saja, kamu selalu bisa jadi dokter spesialis untukku, bahkan di saat gusiku sedang sakit, atau kulitku yang tiba-tiba menjadi bruntusan, kering dan belang, kamu selalu jadi pendengar yang baik untukku dalam semua keluhan-keluhanku.

Di dua tahun bersamamu, saya tahu kamu buruk soal ingatan, kamu selalu pelupa, tapi saya tidak pernah bosan mengingatkankanmu deadline membayar tagihan-tagihan hidup kita, mulai dari membayar kartu halo sampai tagihan air. Meski saya ingat dimana saya menyimpan kunci mobil, menyimpan lipstikku, menyimpan barang-barangku, tapi saya selalu senang menanyakan itu padamu, apalagi saat kamu sedang sibuk di rumah, karena saya suka kamu tahu segalanya tentangku.

Di dua tahun bersamamu, saya selalu berusaha jadi perempuan yang lebih baik setiap harinya, saya berusaha tampil anggun, tertutup. Berusaha hidup lebih baik setiap detiknya. Saya selalu berusaha mengingatkankanmu menggosok gigi sebelum tidur, karena kamu selalu lupa akan hal itu. Disetiap harinya saya selalu berusaha lebih kuat, padahal sebenarnya tidak.

Kamu selalu memberikan cerita lucu. Agar saya selalu tertawa, setiap malam kamu selalu menceritakan hal hal yang baru, agar saya lupa dengan masalah-masalah di rumah sakit, karena kamu tahu saya orangnya gampang baper dan stress persoalan rumah sakit dan persoalan pasien, kamu selalu berusaha mengerti segala sesuatu tentangku.

Di Dua tahun bersamamu, kamu mengorbankan banyak hal untukku, kamu baik, gagah, pintar. Tapi tidak pernah mau terlihat lebih pintar dariku. Kamu punya kesempatan lebih sukses dari hari ini, kesempatan memiliki karier yang cemerlang, melebihi apapun yang saya capai, tetapi kamu juga memberiku waktu mengejar cita-citaku. Kamu selalu memberiku ruang mengembangkan diri, tumbuh dan mengejar mimpi-mimpiku, kamu tidak mementingkan dirimu sendiri.

Di dua tahun bersamamu, saya tidak bisa menghitung doa-doa darimu untuk kebaikanku, namun saya selalu ingin bangun lebih pagi dan tidur lebih larut darimu. Saya juga ingin jadi perantara bagi terkabulnya doa-doamu.

Di dua tahun bersamamu, saya tahu apa yang kamu cari dalam hidup bukan kebahagiaan dunia,namun saya ingin kamu menjadi kaya raya agar dapat memberi lebih banyak kepada sesama.

Di dua tahun bersamamu, saya berusaha menepati janji yang saya buat denganmu, saya berusaha mengingat hal-hal kecil lebih dari dirimu, karena saya ingin ada disetiap moment kehidupanmu. Seperti kapan pertama kali kita bertemu, kapan hari kamu datang ke orangtuaku melamarku.

Di dua tahun pernikahan ini, terima kasih karena telah mengubah saya menjadi perempuan yang lebih baik dan saya akan terus berusaha menjadi lebih baik. Maafkan saya karena membawamu dalam masalah-masalahku padahal saya tahu masalahmu juga teramat banyak, namun kamu selalu tampak baik-baik saja.

Di dua tahun bersamamu, maafkan pula jika caraku mencintaimu berjalan sejalan dengan tulisan-tulisan yang berantakan di Blog Pribadi ini, kadang-kadang tak jelas arahnya kemana, semoga hidup kita selalu banyak cinta didalamnya.

Di dua tahun bersamamu, sama seperti selama-selamanya. Saya selalu mencintaimu apa adanya, segalamu adalah anugerah DariNya tanpa kurang sedikitpun.

Selamat ulangtahun pernikahan, sejujurnya tulisan ini terlambat.

Tetaplah begini, selalu mengagumkan untukku, tetap tenang, tetap waspada.

Perjalanan ini masih panjang....




Istrimu,
-chinta-

Komentar

Postingan populer dari blog ini