Langsung ke konten utama

Pelajaran dari beres-beres kamar tidur, siang itu....





Membuang benda-benda adalah sesuatu yang berlawanan dengan Genetikku. Orang tuaku yang pernah hidup pada zaman Depresi, menyimpan segala sesuatu. Mengalami masa kanak-kanak yang kata mereka “masih dalam keadaan kekurangan”  mengajar mereka tidak membuang apapun. Gudang milik Almarhum ayah adalah kuil rongsokan, dan kamar belakang ibu adalah kuil penghematan. Kaus kaki berlubang ? Gunakan untuk keset. Kemeja bernoda ? Kenakan dibawah Balero. Jeans dengan lutut yang usang? Gunting menjadi celana pendek, kata-kata ibu yang masih teringat jelas di kepalaku.
Siang itu, Hari Minggu..  Free time yang tidak biasa kudapatkan dan sudah kujanjikan untuk diriku sendiri bahwa hari ini aku akan menghabiskan waktuku membenahi beberapa hal disudut kamarku. Dan kumulai dari Lemari pakaian. Yang menghentikan langkahku dari membersihkan lemari adalah aku bertemu kembali dengan diri masa laluku.
Diriku yang dulu atletik tidak bisa berpisah dengan baju lengan pendek, baju tanpa lengan pemain basket umumnya, celana olahraga selutut, bantalan lutut, sampai karet pengganjal persendian kaki, yang meyakinkanku bahwa aku memang masih cukup muda tapi tak mungkin lagi untuk berolahraga basket lagi disela-sela waktu kosongku.
Diriku yang dulu sangat memedulikan trend, punya beberapa dress selutut, sampai rok spandek hitam diatas lutut, Blouse perempuan  lengan pendek dan aku sudah hampir tidak pernah menggunakannya selama 4 tahun terakhir karena kini aku telah memakai jilbab.
Diriku yang kadang mampu merasakan nostalgia mempertahankan setiap benda yang punya kisah, misalnya ada daster merah jambu bermotif bali pemberian sahabatku, ada pula kaos oblong milik teman yang tak sengaja kupakai karena hari itu bajuku terkena guyuran hujan saat aku mengunjungi rumahnya, sebut saja ia masa-masa Putih abu-abu. Dan kami masih merasa sangat dekat juga saling merindukan. Dan benda-benda ini masih kupakai hingga sekarang.

Diriku yang realistis mengambil alih semuanya dan memutuskan sudah waktunya berpisah dengan segala sesuatu yang tidak aku kenakan selama 5 tahun terakhir. Aku membereskan dan menumpuknya kemudian berniat memberikannya kepada orang lain. Segunung benda aneka rupa, dan rasanya aku seperti menjadi manusia baru, Hidupku teratur, ah.. ya paling tidak lemari pakaianku.
Aku memilah semua benda yang aku rasa sudah menggumpal dan menyumbat pembuluh darah di kamarku. Aku seperti wanita yang kerasukan membereskan setiap sudut, lemari pakaian, laci meja belajar, rak buku, juga box barang barang lama dikamarku.
Aku membuang sarung tangan dan kaos kaki yang tidak berpasangan, aku mulai memilah benda-benda lamaku, semuanya pelan-pelan dengan mengajukan empat pertanyaan kepada diriku sendiri. ; Apakah berguna ? Apakah Indah ? Apakah menambah makna kepada hidupku saat ini ?? Jika benda-benda ini digratiskan pada suatu obralan, apakah ada yang akan mengambilnya ? Pertanyaan terakhir berfungsi sebagai serum kebenaran.
Aku lalu mengambil Kardus kosong yang berukuran agak besar lalu mengisinya dengan hasil pilahan satu demi satu, ada yang berencana kuberikan ke anak perempuan, tetanggaku. Rok spandek selutut juga dress yang hampir tidak pernah aku pakai lagi. Ada juga yang ingin kukirim ke rumah keponakanku, yaa keponakanku , anak pertama dari kakak laki-lakiku. Sebuah piama, dan cardigan yang ukurannya kecil, juga beberapa bonekaku, buku-buku bacaan yang menurutku akan berguna untuknya.
Kamarku terasa seperti siap digunakan lagi, aku merasa sangat lega.
Memilah barang-barang lama kemudian menyingkirkannya ataukah diberikan kepada yang lebih membutuhkan (akan mereka butuhkan) membuat kita melepaskan masa lalu, membuat kita membuka ruang bagi masa depan. Lalu untuk apa saja kita membuka ruang ?? Cara-cara baru untuk mengalami kenikmatan dan romansa, kreativitas dan ketenangan,  Hobi baru, teman-baru, juga sebuah tujuan baru.
            Kadang akan terasa perlu membuang sesuatu yang berlebih dengan begitu kita dapat merangkul apa yang memiliki esensi ; indah, bermakna dan meningkatkan hidup kita. Ketika akhirnya kita dapat melepas diri dari masa lalu, pelan-pelan kita kan menemukan diri saat ini dan diri yang kita inginkan.

Yaa, kini kamarku dipenuhi buku-buku, ada kamera canon, juga mini pocket kamera nikonku tertata disudut meja kamarku, juga macbook yang tergeletak kadang di kasur, kadang dikarpet kamar, Boneka teddy yang ukurannya separuh dari tinggi badanku duduk manis disudut tempat tidurku, juga gitar, album album foto lama kini telah kembali tertata rapi.

Dan, terima kasih Tuhan..
Puji syukurku Kepada-Mu atas hari-hari yang telah kulalui, atas pelukan, senyuman, air mata, dan tanggung jawab dalam setiap detik kehidupanku..

Aku benar-benar menikmati hari-hariku..
Dikamarku, dirumah, ditengah orang orang yang kusayangi.
Tolong  jaga mereka selalu untukku.. 
Tolong.. 
Tolong.. 
Tolong bantulah aku Tuhan..
Aku sayang mereka.. 
:)))) 

Komentar

Postingan populer dari blog ini