Langsung ke konten utama

..Manusia di persimpangan



Hai januari, akhirnya kita bertemu lagi.
Bagaimana cuacamu hari ini ?
mendungkah, atau cerah seperti mentari ?
jujur, aku ambigu jika harus menjawabnya.

Hampir 2 bulan berlalu setelah fase patah hati kunikmati dengan semaksimal-maksimalnya, kini aku kembali, semesta sepertinya ingin memberikanku pemahaman yang lebih baik tentang apa yang kualami dan kini aku telah belajar mengerti. Semesta ternyata begitu sayang padaku..  Ia mematahkanku sekali lagi bukan tanpa alasan melainkan agar aku tahu apa sebenarnya yang kubutuhkan dalam hidupku yang sebenar-benarnya, memang butuh waktu untuk kembali pada keadaan normal, mood yang jatuh bangun menjalani hari-hariku dua bulan ini benar-benar adalah suatu tantangan untukku, Semesta.. aku berhasil, lihatlah aku mampu melewati masa-masa kritisku lagi, banyak hal yang harus kuterima dengan lapang dada bahwa sebagian dari rencana-rencanaku ternyata tak berjalan seperti mauku, Ya.. aku harus bisa berlapang dada.

Dokter bukanlah penyembuh untuk luka di hati melainkan waktulah jawabannya, banyak hal yang kulakukan untuk mengobati diriku, bepergian, kembali minum kopi di sela-sela jam istirahatku dari aktifitasku selama seminggu, menemui teman-temanku semasa putih abu-abu, memperbanyak draf draf tulisanku, sampai nonton film seorang diri. Bisa dikatakan aku memaksa pulih perlahan-perlahan.. Ribuan kata-kata bijak kutegaskan pada diriku sendiri, tak jarang membuatku kembali tegar, tak jarang juga membuatku membatu, yaa.. aku membatu.




Aku masih belum lupa bagaimana januariku setahun lalu, moment special bulan itu ; aku bisa skripsi tepat waktu, Alhamdulillah. Sibuk-sibuk membahagiakan, repot repot yang menyenangkan namun yaa tak jarang juga membuat rasa jadi sedikit dongkol, Bagiku itu wajar. Bahkan hal demikianpun harus dinikmati semaksimal mungkin apalagi jika itu persoalan jatuh cinta dan patah hati.

Sekarang aku kembali kepada januari, januari dengan tahun yang berbeda, bertambah satu tahun. Demikian halnya usiaku, Banyak realisasi yang tertunda dari rencana-rencana kemarin, banyak pula yang telah berjalan sebagaimana adanya. Aku sangat menyadari Di depan pendidikan kedokteranku masihlah panjang terbentang, mau tidak mau ini adalah bagian dari skenario perjalananku yang tidak main-main. Aku harus lebih banyak menyisihkan waktu untuk hal-hal yang penting ketimbang yang hanya sekedar seru saja, aku harus bisa membuat motivasiku tetap menyala di dalam diriku. Apakah bukan sebaiknya aku menemukan “semangat baru’’ lagi ???? agar membuatku lebih kokoh lagi bersama pondasi yang kutelah bangun sampai hari ini. Ataukah sebaiknya memang aku benar-benar perlu sendiri ???? yaa.. Rasanya aku sedang berada di persimpangan. Ada hal yang tak bisa ku tengok lagi ke belakang, ada hal yang selalu membuatku ingin meleburkan masa-masa itu. Masa-masa dimana aku dan dirinya pernah saling tergila-gila. Kemudian tragisnya masa itu telah habis di kikis waktu.  Aku memilih untuk beranjak pergi dengan semua tentang dia yang pelan-pelan membatu dan memberatkan langkahku, Kenyataannya aku tak bisa berlama-lama di sini, dan dia juga sudah sangat lama tidak berada disini.
Kami Impas.

Mungkin beginilah rasanya berada di persimpangan,  namun yang kutahu adalah aku harus terus berjalan dan tetap berjalan.
Ya aku harus terus berjalan…





@moccachinta

Komentar

Postingan populer dari blog ini