Langsung ke konten utama

Biarkan kita selesai di sini.





Antara percaya dan tidak percaya ternyata kisah kita memang telah terkikis oleh masa, awalnya ini terasa runyam, aku benar-benar kacau, rasanya seperti menikam diriku tanpa sakit yang menjerit, kemudian sempat kukatakan ; janganlah pernah di sini meski ada ruang untuk kembali, banyak hal yang tidak bisa kutepikan dengan logikaku, warasku habis di kuras kecewa tapi dengarkanlah ini kasih ; aku berbohong jika tak merindukanmu di waktu-waktu tertentu, sesekali di pagi hari aku terbangun dan aku meraih ponselku tenyata tak ada tegur sapamu  “selamat pagi untukku” , di saat malam mulai menerawang dengan hati-hati, menjelang kantuk yang tak juga berujung “aku ternyata masih menyimpan jejakmu di beberapa jengkal memori”  

.. Sejujurnya aku rindu menguji rinduku lagi, rindu yang hadir kala aku dan seseorang berjarak dan mampu untuk saling mendoakan, oh.. bukan, aku ternyata salah, yang jauh memanglah jarak, tapi sedekat-dekatnya adalah rasa. Ya.. langit kita tetaplah sama, oksigen masih jadi survivor kita yang utama, Dan aku pun akhirnya sadar jarak ternyata bukanlah suatu masalah.

Dengarkanlah ini : Kehadiranmu yang membuat aku begini, yaa.. banyak hal yang membuat aku belajar tanpa diminta juga tanpa dipaksa. setahun  yang berharga bagiku, kuharap juga bagimu. Setelah ini aku yakin hidupmu, hidupku—Hidup kita akan lebih baik,
Berjalanlah.. terus. Jangan menoleh lagi..
Disini aku masih berzikir lemah meminta baikmu, Sehatmu. Meski sebenarnya aku cemas. di sela sela tulisan ini aku harus menyempatkan menanyakan kabarmu, heii  bagaimana kabarmu ?? sudahkah meneguk air mineral hari ini ? bagaimana keadaan meja kerjamu di sana ?? ah.. aku rindu menanyakan hal-hal sepele yang menggugah senyumku di sini.
        
         Kasih, Kau tak perlu cemas, aku masih berdiri di jalan sama. Di jalan dimana aku masih memiliki mimpi-mimpiku, mimpi bahwa suatu hari aku akan berada di inggris menonton club sepak bola favoritku, mimpi bahwa aku akan terus melanjutkan pendidikan untuk generasiku kelak, mimpi mimpi bahwa aku akan terus menulis banyak sekali buku, banyak sekali tulisan, banyak sekali hal, yaa meski dengan nafas terengah dan gontai kaki yang menjejaki tanah, sejenak aku sadar --kini aku seorang diri.

         Lebih karena mencintai adalah karunia, susah-senangnya, hingga pahit-manisnya. aku memutuskan untuk tidak mengacuhkan seribu tanya mengapa kemudian saat itu aku memilihmu. Karena tak ada jawaban yang tepat untuk setiap langkah kaki yang menujumu. Aku ingin berhenti bertanya---berhenti menjawab, karena semua itu hanya akan membuatku meragu. Dirimu yang sedetik menjauh, sedetik mendekat. Pergi kemudian kembali, ada—lalu tiada. Melemparku dalam kerelaan hati, kesabaran, kesetiaan dan belajar tentang pemahaman satu hal lagi tentang cinta.

         Dengarkanlah ini ; Terima kasih, karena mencintaimu adalah sebuah kesyukuran, mencintaimu adalah kesalahan berlapis yang selalu ku syukuri, karena tak pernah ada penyesalan yang mengikutinya. Absurd tapi absolut perasaan ini, mengagumkan ! Karena cinta dan kegilaan sama sama menggambarkan rasaku, dua-duanya serba tak terduga. Rindu telah membumihanguskan kewarasanku, itulah nyatanya. Layaknya lilin yang membakar habis dirinya hingga luluh lantah pada ketiadaan.  Kini saatnya  aku kembali ke awal, membaca ulang semua hari-hari baruku.
Tunggu, biarkan aku bernafas sejenak…

         Perjalanan kita boleh berhenti ; tapi jangan tujuan-tujuan kita, harapan-harapan kita, harapanku--harapanmu, tujuanku—tujuanmu hingga mimpiku—mimpimu. Masih jauh kilometer hidup yang masing-masing harus kita tempuh. Kau harus menjemput bahagiamu begitupun aku. Kecuali, menunggumu itu satu hal yang pasti, maka  akan kubela hingga kakiku tak merasakan lelah lagi. akan tetapi kita sama-sama sadar, pondasi dan akar pertautan yang menunjang itu telah tercabut. Aku tak mampu.

         Tak perlu kamu tahu, cukup rasakan saja. bersama tulisan ini gerimis yang turun pada januari, aku benar-benar ingin menuntaskan perasaanku, yaa perasaanku harus benar-benar berhenti, tentang aku dan kamu selesai sampai di sini.
… Pergilah, raihlah bahagiamu.

Aku dan bahagiaku akan menapaki hari..
        

@moccachinta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini