Langsung ke konten utama

..Pada saatnya kita harus berhenti.






Semenjak aku merasa menulis adalah bagian dari diriku yang sama sekali tidak bisa dipisahkan, pada saat yang sama juga aku merasa lebih nyaman menghabiskan waktu luangku di rumah, aku tidak bisa jauh dari rumah. Meski hari-hari sebagai dokter muda di rumah sakit mengharuskanku untuk sesekali ( dikalikan banyak hari ) tidak pulang karena harus menjaga pasien, menerima pasien baru,  follow up pagi-pagi buta sebelum supervisior/konsulen visite. Yaa.. jadi co-asssistant memang menguras hati dan jiwa, :”) ( jadi tjurhat).
September pun sebentar lagi datang, bulan dimana hari pertunangannku dan kakak, di tanggal 27 september nanti. Aaaakkhh, masih gak percaya sebentar lagi bakalan nikah. (Sumpah, gak percayaa) :”).  Seperti biasa, aku menghabiskan akhir pekan yang bebas tugas dari rumah sakit dengan menyelesaikan bab akhir novel yang aku beli beberapa bulan kemarin, Menikmati bacaan-bacaan ringan di internet, sosial media, sambil memanjakan diri di kasur setelah melakukan sedikit olahraga ringan di rumah.
Waktu berlalu tanpa kita sadari, pada akhirnya masing-masing dari kita akan tiba masanya melalui fase ini, bertemu dengan jodoh, kemudian menikah. Dua tahun sampai hari ini, rasa ini masihlah sama. Tidak ada yang berubah perihal rasaku dengan kakak, Tanpa aku sadari pula ternyata aku cukup lama menanti, kami terpisahkan oleh jarak, rasa rindu yang setiap saat datang menghempaskan pikiran, bulan-bulan galau telah berganti menjadi bulan-bulan penantian yang penuh suka, aku tidak pernah menyesal mengenal kakak.
Pada hari-hari biasa aku dan kakak berada di tempat yang berbeda, yaa kota yang berbeda, dia ada di provinsi lain, dia berkantor disana, melaksanakan tugas, menjalankan pekerjaannya. Yang sering kali akan  dihadapi bahwa terkadang memang kita akan dipertemukan lagi dengan seseorang yang lain disaat kita sedang menjalani komitmen, yaa mungkin saja orang baru itu membuat kita nyaman, teman baru kita itu bisa saja salah mengartikan kebaikan kita, orang baru itu ingin bersama kita. Di sisi lain kita punya hati yang harus kita jaga, perasaan dan kejadian seperti itu tidaklah salah. Hanya saja orang baru itu terkesan rakus dengan kasih sayang.
Sama-sama kita tahu di dunia ini banyak sekali pilihan menarik, ada sejuta pilihan di luar sana, pada akhirnya membuat kita membanding-bandingkan pasangan kita dengan pilihan-pilihan itu, padahal itu sangatlah salah. Karena pasangan yang baik bukan yang mengharapkan seseorang yang sempurna tapi mencintai pasangannya dengan sempurna. Kita pun tahu tidak pernah ada manusia yang sempurna. Yang cantik kadang gak bisa di ajak diskusi, gak nyambung di ajak ngobrol, yang ganteng kadang suka ganjen sama cewek, yang banyak duit suka tebar pesona, dan masih banyak “yang” yang” lainnya..

Kita tidak bisa menyalahkan keadaan, tapi yang perlu kita perbaiki adalah persepsi dan cara berfikir kita, jangan pernah membanding-bandingkan pasanganmu dengan orang lain, karena hal itu akan menyakitinya secara tidak langsung. Saat pilihanmu jatuh kepadanya, saat itulah kamu siap menerima baik-buruknya, kurang dan lebihnya, dan segala apapun tentangnya, jika kamu terus mencari-cari kekurangan maka pada saat yang sama kamu juga tidak akan pernah berhenti mencari seseorang yang baru. Apakah tidak  lelah dan membuang-buang waktu ?? Kita hidup tidak lama kok, jangan habiskan waktu dengan pilihan-pilihan yang (mungkin saja) salah :) 

            Pelajaran baik dariku melalui tulisan ini bahwa ajaklah yang ingin ikut seutuhnya, dan ikutlah pada yang mengajak dengan sepenuhnya.
Hanya itu, karena pada akhirnya kita harus berhenti.

Berhenti pada satu hati.  


@moccachinta

Komentar

  1. Congratulation Mba,s emoga lancar ya engangementnya :)

    BalasHapus
  2. Semoga lancar nanti acaranya ya mbak :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini