Langsung ke konten utama

Hidup yang sederhana, seharusnya semudah ini.



Almarhum ayahku membayar tunai untuk segala sesuatu, jika ia tidak punya uang tunai, itu berarti ia tidak membutuhkan barang itu. Dia adalah polisi, tukang memperbaiki kran air yang bocor, tukang pipa, tukang lampu, tukang pompa air rumah kami. Aku tidak pernah tahu berapa penghasilannya, berapa pun yang ia miliki, dia membaginya untuk keperluan 3 anaknya. Cukuplah dikatakan bahwa ketika kami dibesarkan, kami tidak memiliki banyak kelebihan, tetapi kami mendapatkan semua yang kami butuhkan.

Ayah tidak pernah berkata “kita tidak mampu membelinya, aku tidak pernah mendengar kata-kata “Kita tidak punya uang untuk itu” Dia akan melihat apa yang kami inginkan dan berkata, “Kamu tidak membutuhkan itu” Dan dia benar, Tentu saja kami tidak membutuhkannya, Kami hanya menginginkannya.
Dia mengajarkan cara mengelola keinginan kami.

Hal ini yang membuatku menunda untuk membuat kartu kredit pertamaku setelah banyak sekali operator bank A,B,C dan D yang menawarkan banyak sekali potongan diskon untuk pembelanjaan di toko A,B,C,D dan seterusnya. Aku hanya berfikir mengapa akan terasa mudah sekali mengeluarkan kartu plastik untuk makanan seharga 120.000 rupiah, ketimbang mengeluarkan dua uang lima puluh ribu dan dua puluh ribu. Bagiku membayar tunai akan membuat kita berpikir dua kali sebelum memesan makanan pembuka dan penutup saat harus berada di luar rumah.

Sebagian besar dari kita membelanjakan beberapa ratus ribu rupiah disini, dan beberapa ratus kemudian di sana. Dan akhirnya menjadi jutaan setiap bulannya, banyak dari kita berfikir kalau saja penghasilan kita naik, gaji kita bertambah, dan mungkin saja jika kita bisa memiliki uang yang lebih banyak. Aku membaca banyak buku yang mengajarkan perilaku kita terhadap uang, bahwa masalah uang tidaklah pernah tentang uang, tetapi bagaimana kita berpikir tentang uang, tentang bagaimana perilaku kita terhadap uang. Dan itu bisa diubah.

 Ayahku mengajarkan pelajaran yang tidak kudapatkan di sekolah, Pelajaran berharga, mengajari kami hidup yang sederhana tanpa harus merasa kekurangan, bagiku menjalani hidup yang berkelimpahan bukan berarti memenangkan lotre, menikah dengan orang kaya, atau mendapatkan kenaikan gaji setelah aku bekerja. Ini hanya tentang pelajaran sederhana yang perlu kuwarisi terhadap anak-anakku kelak, dengan menaikkan kesadaran kita tentang uang, ini dimulai dari mengetahui apa yang kita inginkan tidak selalu kita butuhkan dan seringkali bahkan bukan yang sejatinya kita inginkan. Ini dimulai dengan belajar membuat pilihan-pilihan cerdas yang menjurus pada kepuasan jangka panjang.

Bahwa kita hanya perlu berubah untuk hal yang lebih baik.




Terima kasih banyak Ayah.

@moccachinta

Komentar

Postingan populer dari blog ini