Langsung ke konten utama

Referat Stase Anak ; Sepsis Neonatorum #CatatanDokterMuda


SEPSIS NEONATORUM

( Chintasih Masnitarini )


A.    PENDAHULUAN

           Sepsis pada Bayi baru lahir ( sepsis neonatal ) masih merupakan masalah yang belum dapat terpecahkan dalam pelayanan dan perawatan Bayi baru lahir. Di negara berkembang, hampir sebagian besar BBL (bayi baru lahir)  yang dirawat mempunyai kaitan dengan masalah sepsis. Hal yang sama ditemukan di negara maju pada bayi yang dirawat di unit perawatan intensif BBL. Disamping morbiditas, mortalitas yang tinggi ditemukan pula pada penderita sepsis BBL. Dalam laporan WHO yang dikutip Child Health Research Project Special Report ; Reducing perinatal and neonatal mortality, dikemukakan bahwa 42 % kematian BBL terjadi karena berbagai bentuk infeksi seperti infeksi saluran pernapasan, tetanus neonatorum, case fatality rate yang tinggi ditemukan pada sepsis neonatal. Hal ini terjadi karena banyak faktor resiko infeksi pada masa perinatal yang belum dapat dicegah dan ditanggulangi.(1)
  Angka  Kejadian / insidens sepsis di negara yang sedang berkembang masih cukup tinggi ( 1,8- 18/1000) dibanding dengan negara maju (1-5 pasien / 1000 kelahiran) pada bayi laki-laki risiko sepsis 2 kali lebih besar dari bayi perempuan. Kejadian sepsis juga meningkat pada BKB dan BBLR. Pada bayi berat lahir amat rendah < 1000 g kejadian sepsis terjadi pada 26 perseribu kelahiran dan keadaan ini berbeda bermakna dengan bayi berat lahir antara 1000-2000 g yang angka kejadiannya antara 8-9 perseribu kelahiran. Demikian pula resiko kematian BBLR (Bayi berat lahir rendah) Penderita sepsis lebih tinggi bila dibandingkan dengan bayi cukup bulan.(1)

  Walaupun infeksi bakterial berperan penting dalam sepsis neonatal tetapi infeksi virus tetap perlu dipertimbangkan. Dari pengumpulan data selama 5 tahun terakhir melaporkan bahwa selain infeksi bakteri, virus, khususnya enterovirus berperan pula sebagai penyebab sepsis / meningitis neonatal. Dari tahun ke tahun insiden sepsis tidak banyak mengalami perbaikan, sebaliknya angka kematian memperlihatkan perbaikan yang bermakna. Di inggris, angka kematian sepsis neonatal pada tahun 1985-1987 ( 25-30%) menunjukkan penurunan yang bermakna dibandingkan dengan tahun 1996-1997 menjadi 10 %. Hal ini terjadi karena kemajuan teknologi kedokteran serta berbagai macam antibiotika baru. Perbaikan angka kematian ini tidak disertai dengan perubahan insidens sepsis pada waktu tersebut.(1)

  Dalam 5–10 tahun terakhir ini terdapat informasi baru mengenai pathogenesis sepsis. Informasi ini memberikan juga cakrawala baru dalam pencegahan dan manajemen bayi. Beberapa studi melaporkan cara diagnosis dan tata laksana sepsis yang lebih efisien dan efektif pada bayi yang beresiko. Cara terakhir ini membutuhkan teknologi kedokteran yang lebih canggih dan mahal yang mungkin belum dapat terjangkau untuk negara berkembang.(1)

B.    DEFINISI & KLASIFIKASI

            Sepsis pada Bayi baru lahir adalah infeksi aliran darah yang bersifat invasif dan ditandai dengan ditemukannya bakteri dalam cairan tubuh seperti darah, cairan sumsum tulang atau air kemih. (2)
            Keadaan ini sering terjadi pada bayi beresiko misalnya pada bayi kurang bulan, Bayi berat lahir rendah, bayi dengan gangguan napas atau bayi yang lahir dari ibu yang beresiko. Sepsis neonatal biasanya dibagi dua kelompok yaitu sepsis awitan dini dan awitan lambat. Sepsis awitan dini ( lahir sampai 7 hari ) merupakan penyakit sistem multiorgan berat yang sering bermanifestasi sebagai gagal pernapasan, syok, meningitis ( 30 % kasus), koagulasi intravascular diseminata (KID), Nekrosis tubular akut dan gangren perifer simetris. (2)
            Manifestasi awal merintih, toleransi minum buruk, pucat, apneu, letargis, hipotermi, atau tangisan abnormal dapat bersifat non spesifik. Neutropenia berat, hipoksi dan hipotensi dapat bersifat reftrakter terhadap antibiotik spectrum luas, ventilasi mekanik dan vasopressor seperti dopamine dan dobutamin.     Pada tahap awal septikemia awitan-dini dari bayi premature sepsis sulit dibedakan dari sindrom gawat napas (SGN). Oleh karena kesulitan ini, bayi prematur dengan SGN mendapat antibiotik spektrum luas. Sepsis awitan lambat (8 sampai 28 hari ) umumnya terjadi pada bayi cukup bulan sehat yang dipulangkan dalam keadaan sehat, Manifestasi klinis dapat meliputi letargis, toleransi minum buruk, hipotoni, apatis, kejang, ubun-ubun menonjol, demam, hiperbilirubinemi direct. (2)

            Selain bakteremi, penyebaran hematogen dapat berakibat pada infeksi fokal, seperti meningitis ( pada 75 % kasus), osteomyelitis ( Steptokokus Group B, Staphylococcus aureus), artritis ( Gonokokus, S.aureus, candida albicans, bakteri gram negative dan infeksi saluran kemih. Sepsis awitan lambat dapat disebabkan oleh pathogen yang sama dengan sepsis awitan dini, namun bayi yang menunjukkan tanda sepsis di akhir periode neonates juga mungkin mendapat infeksi oleh pathogen yang biasanya ditemukan pada bayi yang lebih tua. (H. Influenzae, S.Pnemoniae dan Nisseria meningitidis). Selain itu, virus ( HSV, CMV atau enterovirus) dapat bermanifestasi seperti gambaran awitan lambat. (2)

C.   EPIDEMIOLOGI

Insiden sepsis neonatorum sebesar 1 sampai 4 dari 1000 kelahiran hidup di negara maju dan 10 sampai 50 dari 1000 kelahiran hidup di negara berkembang. (Putra, 2012). Insiden sepsis neonatorum beragam pada setiap rumah sakit. Di RSCM Jakarta periode Januari - September 2005, angka kejadian sepsis neonatorum sebesar 13,68% dengan angka kematian sebesar 14,18%. Sedangkan di RSUP Sanglah Denpasar periode Januari - Desember 2010 angka kejadian sepsis neonatorum 5% dengan angka kematian 30,4%.(1)
Adapun permasalahan pada kasus-kasus sepsis bayi baru lahir adalah sering menimbulkan kematian, penegakan diagnosis kadang sulit karena sering sepsis asimtomatik, gejala sisa bila bayi dapat bertahan hidup, biaya yang dikeluarkan cukup mahal dan permasalahan seperti ;
1.     Jenis infeksi
Pada masa neonatal berbagai bentuk infeksi dapat terjadi pada bayi. Di negara yang sedang berkembang macam infeksi yang sering ditemukan berturut-turut infeksi saluran pernapasan akut, infeksi saluran cerna (diare), tetanus neonatal, sepsis dan meningitis. (1)
Selajutnya dikemukakan bahwa case fatality rate yang tinggi terjadi pada penderita tetanus dan sepsis/meningitis neonatal. Kedua penyakit terakhir ini lebih banyak menimbulkan masalah bila dibandingkan dengan infeksi lain. Berlainan halnya dengan tetanus, case fatality rate yang tinggi pada penderita sepsis dan meningitis merupakan masalah yang belum terpecahkan sampai saat ini. Permasalahan tersebut dapat terjadi akibat berbagai faktor termasuk diantaranya masalah kuman yang menjadi penyebab, masalah diagnosis ataupun masalah penatalaksaan dan pencegahan sepsis.(1)
2.     Masalah kuman penyebab
Pola kuman penyebab sepsis tidak selalu sama antara satu Rumah sakit dengan Rumah sakit yang lain. Perbedaan tersebut terdapat pula antar suatu negara dengan negara lain. Perbedaan pola kuman ini akan berdampak terhadap pemilihan antibiotic yang didipergunakan pada pasien. Perbedaan pola kuman mempunyai kaitan pula dengan prognosa serta komplikasi jangka panjang yang mungkin diderita bayi baru lahir.(1)
Hampir sebagian besar kuman penyebab di negara berkembang adalah kuman gram negative berupa kuman enteric seperti enterobacter sp, Klebsiella sp, dan Coli sp sedangkan di amerika utara dan eropa barat 40 % penderita terutama disebabkan oleh streptokokkus group B. Selanjutnya kuman lain seperti Coli sp, Listeria Sp dan Enterovirus ditemukan dalam jumlah yang lebih sedikit.(1)
Walaupun penyebab perbedaan ini belum diketahui secara pasti, tetapi beberapa hipotesis yang sering dikemukakan karena ; Tingginya angka kejadian kolonisasi kuman pada ibu, perbedaan pola kuman yang berada di lingkungan ibu dan bayi, perbedaan respons imun dan faktor-faktor genetic dari populasi, perbedaan dalam melakukan analisa mikrobiologik yang dilaksanakan di masing-masing negara, perbedaan dalam tingkat pendidikan kesehatan dan pelayanan kesehatan masing-masing negara.(1)
Penderita sepsis yang disebabkan kuman streptokokus Group B ternyata mempunyai angka kematian yang lebih rendah dibandingkan penderita yang disebabkan oleh kuman gram negative. Selain perbedaan antar negara, pola kuman juga selalu berubag dari waktu ke waktu. Di RSCM dalam 30 tahun terakhir ini telah terlihat tiga kali perubahan pola kuman yang ada.
Memperhatikan permasalahan kuman yang dibahas di atas, pertimbangan-pertimbangan yang perlu dilakukan dalam tata laksana sepsis neonatal antara lain ; Pemilihan antibiotik empirik untuk sepsis neonatal harus memperhatikan pola kuman penyebab yang paling sering ditemukan di masing-masing Rumah sakit, jenis kuman penyebab perlu dievaluasi secara berkala, upaya diagnosis dini kuman penyebab akan berpengaruh terhadap tata laksana dan prognosis pasien.(1)
3.     Masalah diagnosis
Diagnosis klinis sepsis neonatal mempunyai masalah tersendiri. Gambaran klinis pasien sepsis neonatal tidak spesifik. Tanda dan gejala sepsis neonatal tidak berbeda dengan penyakit non infeksi bayi baru lahir lain seperti sindrom gangguan nafas, pendarahan intracranial dan lain-lain. Demikian pula gejala sepsis klasik yang ditemukan pada anak lebih besar jarang terjadi pada Bayi baru lahir, namun tragisnya keterlambatan dalam diagnosis pasien berpotensi mengancam kelangsungan hidup bayi. Selain itu akan berpengaruh pula pada prognosis pasien. Sampai saat ini biakan darah masih merupakan baku emas dalam diagnosis sepsis Bayi baru lahir. Pemeriksaan biakan ini mempunyai kelemahan tersendiri. Hasil biakan kuman baru akan diketahui setelah 3-5 hari. (1)
 
Berbagai pemeriksaan penunjang lain seperti C-Reactive protein, rasio I/T dll tidak spesifik dan tidak dapat dipakai sebagai pegangan tunggal dalam prognosis pasien sepsis. Akhir-akhir ini pemeriksaan biomelekuler dan respons imun/sitokin dianggap lebih bermanfaat dalam menunjang diagnostik sepsis neonatal. Dibandingkan dengan biakan darah pemeriksaan biomelekuler dilaporkan lebih cepat memberikan informasi jenis kuman. Selanjutnya dikemukakan bahwa sitokin yang beredar dalam sirkulasi pasien sepsis dapat dideteksi 2 hari sebelum gejala klinis sepsis muncul. Kedua pemeriksaan terakhir ini bermanfaat dalam manajemen pasien karena memungkinkan pengobatan yang lebih dini, lebih efisien serta efektif sehingga komplikasi jangka panjang dapat dihindarkan.(1)
4.     Masalah manajemen
Pemilihan antibiotik dalam penatalaksanaan sepsis neonatal memerlukan pertimbangan yang matang. Seperti dikemukakan sebelumnya, kuman penyebab infeksi tidak selalu sama satu dengan lainnya, baik antar rumah sakit ataupun antar waktu. Selain itu sering terjadi dilemma dalam penatalaksanaan pasien. Keterlambatan pengobatan akan meningkatkan mortalitas, sedangkan pemberian terlalu cepat sering menimbulkan over treatment yang dapat merugikan penderita. Oleh karena itu pemilihan spectrum antibiotik harus ditetapkan dengan tepat sesuai dengan pola kuman yang ditemukan serta diperhatikan pula toksisitas obat dan kemungkinan resistensi kuman dikemudian hari.
Selanjutnya dalam penatalaksanaan pasien perlu diperhatikan respons tubuh pasien terhadap perjalanan penyakit (cascade) infeksi yang terjadi. Perubahan respons tubuh yang dimulai dengan sepsis dan berturut-turut terjadi sepsis berat, syok sepsis dan gangguan fungsi multi organ memerlukan antisipasi dan kemungkinan terapi tambahan (adjuvant teraphy) Pemilihan terapi tambahan ini harus mempertimbangkan manfaat yang berbasis bukti.(1)
 
5.     Masalah pencegahan
  
Pencegahan sepsis neonatal juga mempunyai permasalahan tersendiri. Perawatan bayi baru lahir yang sempurna tidak akan memberikan hasil yang optimal apabila tidak disertai perawatan antenatal yang baik. Faktor-faktor seperti sosial ekonomi, pendidikan ibu, jangkauan pelayanan kesehatan primer yang terlalu jauh serta perawatan antenatal yang terbatas merupakan masalah umum yang dihadapi oleh ibu hamil sehari-hari. Gambaran proses reproduksi semacam ini akan berdampak terhadap tingginya kelahiran bayi berat lahir rendah, KB dan risiko infeksi ibu selama kehamilan dan persalinan. Ketiga faktor terakhir ini merupakan faktor yang mempersulit tatalaksananya pencegahan sepsis neonatal. (1)
D. PATOFISIOLOGI
            Selama dalam kandungan janin relatif aman terhadap kontaminasi kuman karena terlindungi oleh berbagai organ tubuh seperti plasenta, selaput amnion, khorion dan beberapa faktor anti infeksi pada cairan amnion. Walaupun demikian kemungkinan kontaminasi kuman dapat timbul melalui berbagai jalan yaitu ;

1.     Infeksi kuman, parasit atau virus yang diderita ibu dapat mencapai janin melalui aliran darah menembus barrier plasenta dan masuk sirkulasi janin. Keadaan ini ditemukan pada infeksi TORCH, Triponema pallidum atau Listeria dll.
2.     Prosedur Obstetri yang kurang memperhatikan faktor aseptic/antiseptic misalnya saat pengambilan contoh darah janin, bahan vili khorion atau amniosentesis. Paparan kuman pada cairan amnion saat prosedur dilakukan akan menimbulkan amnionitis dan pada akhirnya terjadi kontaminasi kuman pada janin.
3.     Pada saat ketuban pecah, paparan kuman yang berasal dari vagina akan lebih berperan dalam infeksi janin. Pada keadaan ini kuman vagina masuk ke dalam rongga uterus dan bayi dapat terkontaminasi kuman melalui saluran pernafasan ataupun saluran cerna. Kejadian kontaminasi kuman pada bayi yang belum lahir akan meningkat apabila ketuban lebih dari 18-24 jam.(1)

            Setelah lahir, kontaminasi kuman terjadi di lingkungan bayi baik karena infeksi silang ataupun alat-alat yang digunakan bayi. Bayi yang mendapat prosedur neonatal invasive seperti katerisasi umbilicus, bayi dalam ventilator, kurang memperhatikan tindakan anti sepsis, rawat inap yang terlalu lama dan hunian yang padat dan lain lain. Pasien yang terpapar setelah lahir dikelompokkan pada kelompok awitan dini. Bila paparan kuman pada kedua kelompok ini berlanjut memasuki aliran darah maka akan terjadi respons tubuh yang berupaya untuk mengeluakan kuman dari tubuh. (1)

            Berbagai reaksi tubuh yang terjadi akan memperlihatkan pula bermacam-macam gambaran gejala klinis pada pasien. Tergantung dari perjalanan penyakit, gambaran klinis yang terlihat akan berbeda-beda karenanya penatalaksanaan penderita selain pemberian antibiotik, harus memperhatikan pula gangguan fungsi organ yang timbul akibat beratnya penyakit.

            Berlainan dengan pasien dewasa, pada BBL terdapat berbagai tingkat defisiensi system pertahanan tubuh, sehingga respons sistemik pada janin dan Bayi baru lahir akan berlainan dengan pasien dewasa. Sebagai contoh pada infeksi awitan dini respons sistemik pada Bayi baru lahir mungkin terjadi saat masih dalam kandungan. Keadaan ini dikenal dengan Fetal Inflammatory respons syndrome (FIRS) yaitu infeksi janin atau Bayi baru lahir terjadi karena penjalaran infeksi kuman vagina –asending infection atau infeksi yang menjalar secara hematogen dari ibu yang menderita infeksi awitan dini, perjalanan penyakit bermula dengan FIRS kemudian sepsis, sepsis berat, syok septik/renjatan septik, disfungsi multi organ dan akhirnya kematian.(1)

            Pada infeksi awitan lambat perjalanan penyakit infeksi tidak berbeda dengan definisi pada anak. Dengan kesepakatan terakhir ini, definisi sepsis neonatal ditegakkan apabila terdapat keadaan SIRS/FIRS yang dipicu infeksi baik berbentuk suspected infeksi ataupun terbukti (proven) infeksi. Selanjutnya dikemukakan bahwa sepsis pada Bayi baru lahir ditegakkan bila ditemukan satu atau lebih kriteria FIRS/SIRS yang disertai dengan gamnbaran klinis sepsis. (1)

            Gambaran klinis sepsis Bayi baru lahir tersebut bervariasi, karena itu kriteria diagnostik harus pula mencakup pemeriksaan penunjang baik pemeriksaan laboratorium ataupun pemeriksaan khusus lainnya. Kriteria tersebut terkait dengan perubahan yang terjadi dalam perjalanan penyakit infeksi. Perubahan tersebut dapat dikelompokkan dalam berbagai variabel antara lain variabel klinik (seperti suhu tubuh, laju nadi, dll ), Variabel hemodinamik (tekanan darah) ,variabel perfusi jaringan (capillary refill) dan variabel inflamasi (gambaran leukosit, trombosit, IT Ratio , sitokon dll.)

            Berbagai variabel inflamasi tersebut di atas merupakan respons sistemik yang ditemukan pada keadaan FIRS/SIRS yang antara lain terlibat adanya perubahan sistem hematologic, sistem imun tubuh dll. Dalam sistem imun, salah satu respons sistemik yang penting pada pasien SIRS/FIRS adalah pembentukan sitokin. Sitokin yang terbentuk dalam proses infeksi berfungsi sebagai regulator reaksi tubuh terhadap infeksi, inflamasi atau trauma. Sebagian sitokin (Pro inflamantory cytokine seperti IL-1, IL-2 dan TNF-a) dapat memperburuk keadaan penyakit tetapi sebagian lainnya anti-inflammantory cytokine seperti IL-4 dan IL-10 bertindak meredam infeksi dan mempertahankan  homeostasis organ vital tubuh. Selain berperan dalam regulasi proses inflamasi, pembentukan sitokin dapat pula digunakan sebagai penunjang diagnostik sepsis neonatal. Perubahan sistem imun penderita sepsis menimbulkan perubahan pula pada sistem koagulasi. Pada sistem koagulasi tersebut terjadi peningkatan pembentukan tissue faktor (TF) yang bersama dengan faktor VII darah akan berperan pada proses koagulasi. Kedua faktor tersebut menimbulkan aktivasi faktor IX dan X sehingga terjadi proses hiperkoagulasi yang menyebabkan pembentukan trombin yang berlebihan dan selanjutnya meningkatkan produksi fibrin dan fibrinogen.

            Pada pasien sepsis, respons fibrinolysis yang biasa terlihat pada bayi normal juga terganggu. Supresi fibrinolysis terjadi karena meningkatnya pembentukan plasminogen-aktivator inhibitor – (PAI-1) terjadi karena meningkatnya pembentukan plasminogen-aktivator inhibitor (PAI-I) yang dirangsang oleh mediator proinflamasi (TNF alpha). Demikian pula pembentukan trombin yang berlebihan berperan dalam aktivasi thrombin-activatable fibrinolysis inhibitor (TAFI) yaitu faktor yang menimbulkan supresi fibrinolysis. Kedua faktor yang berperan dalam supresi ini mengakibatkan akumulasi fibrin darah yang dapat menimbulkan mikrotrombi pada pembuluh darah kecil sehingga terjadi gangguan sirkulasi. Gangguan tersebut mengakibatkan hipoksemia jaringan dan hipotensi sehingga terjadi disfungsi berbagai organ tubuh. Manifestasi disfungsi multiorgan ini secara klinis dapat memperlihatkan gejala-gejala sindrom distress pernapasan, hipotensi, gagal ginjal, dan bila tidak teratasi akan diakhiri dengan kematian pasien.

E. GAMBARAN KLINIS

            Diagnosis dini sepsis neonatal penting artinya dalam penatalaksanaan dan prognosis pasien. Keterlambatan diagnosis berpotensi mengancam kelangsungan hidup bayi dan memperburuk prognosis pasien. Seperti yang telah dikemukakan terdahulu, diagnosis sepsis neonatal sulit karena gambaran klinis pasien tidak spesifik. Gejala sepsis klasik yang ditemukan pada anak lebih besar jarang ditemukan pada BBL. Tanda dan gejala sepsis neonatal tidak berbeda dengan gejala penyakit non infeksi berat lain pada Bayi baru lahir. Selain itu tidak ada satupun pemeriksaan penunjang yang dapat dipakai sebagai pegangan tunggal dalam diagnosis pasti pasien sepsis.

            Dalam menentukan diagnosis diperlukan berbagai informasi antaralain ; Faktor resiko, gambaran klinik, pemeriksaan penunjang. Ketiga faktor ini perlu dipertimbangkan saat menghadapi pasien karena salah satu faktor saja tidak mungkin dipakai sebagai pegangan dalam menegakkan diagnosis pasien. Faktor resiko sepsis dapat bervariasi tergantung awitan sepsis yang diderita pasien. Pada awitan dini berbagai faktor yang terjadi selama kehamilan, persalinan ataupun kelahiran dapat dipakai sebagai indikator untuk melakukan elaborasi lebih lanjut sepsis neonatal. Berlainan dengan awitan dini, pada pasien awitan lambat infeksi terjadi karena sumber infeksi yang terdapat dalam lingkungan pasien.
Pada sepsis awitan dini faktor risiko dikelompokkan menjadi ;

1.     Faktor ibu ;
a.     Persalinan dan kelahiran kurang bulan
b.     Ketuban pecah lebih dari 18-24 jam
c.     Chorioamniotis
d.     Persalinan dengan tindakan
e.     Demam pada ibu > 38,4 C
f.Infeksi saluraan kencing pada ibu
g.     Faktor sosial ekonomi dan gizi ibu

2.     Faktor Bayi
a.     Asfiksia perinatal
b.     Berat lahir rendah
c.     Bayi kurang bulan
d.     Prosedur invasive
e.     Kelainan bawaan

            Semua faktor di atas sering kita jumpai dalam praktek sehari-hari dan sampai saat ini masih menjadi masalah yang belum terselesaikan. Hal ini merupakan salah satu faktor penyebab mengapa angka kejadiaan sepsis neonatal tidak banyak mengalami perubahan dalam decade terakhir ini. Berlainan dengan awitan dini, pada pasien awitan lambat infeksi terjadi karena sumber infeksi yang berasal dari lingkungan tempat perawatan pasien. (1)

            Keadaan ini sering ditemukan pada bayi yang di rawat di ruang intensif Bayi baru lahir, Bayi kurang bulan yang mengalami lama rawat, nutrisi parenteral yang berlarut-larut, infeksi yang bersumber dari alat perawatan bayi, infeksi nosokomial atau infeksi silang dari bayi lain atau dari tenaga medic yang merawat bayi. Faktor risiko awitan dini maupun awitan lambat ini walaupun tidak selalu berakhir dengan infeksi harus tetap mendapatkan perhatian khusus terutama bila disertai oleh gejala klinis. Hal ini akan meningkatkan identifikasi dini dan tata laksana yang lebih efisien pada sepsis neonatal sehingga dapat memperbaiki mortalitas dan morbiditas pasien. (1)

            Seperti telah diungkapkan sebelumnya gejala sepsis klasik yang ditemukan pada anak yang lebih besar jarang ditemukan pada Bayi baru lahir. Pada sepsis awitan dini janin yang terkena infeksi mungkin akan menderita takikardi, lahir dengan asfiksia dan memerlukan resusitasi karena nilai apgar rendah. Setelah lahir, bayi terlihat lemah dan tampak gambaran klinis sepsis seperti hipo/hipertermia, hipoglikemia dan kadang-kadang hiperglikemia. Selanjutnya akan terlihat berbagai kelainan dan gangguan fungsi organ tubuh.

            Gangguan fungsi organ tersebut antara lain kelainan susunan saraf pusat seperti letargi, reflex hisap buruk, menangis lemah, kadang-kadang terdengar high pitch cry dan bayi iritabel serta mungkin disertai kejang. Kelainan kardiovaskuler seperti hipotensi, pucat, sianosis, dingin dan clummy skin. Bayi dapat pula memperlihatkan kelainan hematologic, gastrointestinal ataupun gangguan respirasi seperti pendarahan, icterus, muntah, diare, distensi abdomen, intoleransi minum, Waktu pengosongan lambung yang memanjang, takipnu, apnu, merintih dan retraksi. Pada tabel terlihat berbagai gambaran klinis yang bisa terlihat pada disfungsi multiorgan. Manifestasi gambaran klinis tersebut sangat tergantung pada beratnya gangguan yang terjadi pada masing-masing organ. (1)


Gangguan organ                                                                                Gambaran klinis

Kardiovaskular                                                          *Tekanan darah sistolik <40mmhg    *Denyut jantung <50 atau >220/menit
          *Terjadi henti jantung
*pH darah < 7,2 pada paCO2 normal
               *Kebutuhan akan inotropik untuk mempertahankan tekanan darah normal

     Saluran napas                                                                     *Frekuensi napas > 90/menit
*PaCO2 > 65mmHg
                                                                                                    *PaO2 < 40 mmHg
                                                                                          *Memerlukan ventilasi mekanik
                                                                       *FiO2 < 200 tanpa kelainan jantung sianotik

    System Hematologik                                                                             * Hb < 5g/dl
                                                                                    *WBC < 3000 sel/mmkubic
                                                                                    * Trombosit < 20.000
             * D-dimer > 0,5 ug/ml pada PTT > 20 detik atau waktu tromboplastin > 60 detik

     SSP                                                               *Kesadaran menurun disertai dilatasi pupil

 Gangguan Ginjal                                                                                 * Ureum > 100 mg/dl
*Creatinin > 20mg/dl

  Gastroenterologi                                                       *Pendarahan gastrointestinal disertai penurunan   Hb>2%

    Bilirubin                                                                                    *Bilirubin total > 3mg   
                                



               Bervariasinya gejala klinik dan gambaran klinis yang tidak seragam menyebabkan kesulitan dalam menentukan diagnosis pasti. Untuk hal itu pemeriksaan penunjang baik pemeriksaan laboratorium ataupun pemeriksaan khusus lainnya sering dipergunakan dalam membantu diagnosis. Upaya inipun tampaknya masih belum dapat diandalkan, sampai saat ini pemeriksaan laboratorium tunggal yang mempunyai sensitifitas dan spesifitas tinggi sebagai indikator sepsis belum ditemukan. Dalam penentuan diagnosis, interpretasi hasil laboratorium hendaknya memperhatikan risiko dan gejala klinis yang terjadi.(1)

            Seperti diungkapan sebelumnya, diagnosis infeksi sistemik sulit ditegakkan apabila berdasarkan riwayat pasien dan gambaran klinik saja. Untuk hal tersebut perlu dilakukan pemeriksaan penunjang yang dapat membantu konfirmasi diagnosis. Pemeriksaan penunjang tersebut dapat berbentuk pemeriksaan laboratorium ataupun pemeriksaan khusus lainnya. Langkah tadi disebut septic work up dan termasuk dalam hal ini pemeriksaan biakan darah. Hasil biakan sampai saat ini masih menjadi baku emas dalam menentukan diagnosis, tetapi hasil pemeriksaan membutuhkan waktu minimal 2-5 hari.

            Interpretasi hasil kultur perlu pertimbangan dengan hati-hati khususnya bila kuman yang ditemukan berlainan jenis dari kuman yang biasa ditemukan di klinik tersebut selain itu hasil kultur dipengaruhi pula oleh kemungkinan pemberian antibiotika sebelumnya atau adanya kemungkinan kontaminasi kuman nosokomial. Untuk mengenal kelompok kuman penyebab infeksi secara lebih cepat dapat dilakukan pewarnaan gram. Tetapi cara ini tidak mampu menetapkan jenis kuman secara lebih spesifik. Pemeriksaan lain dalam septic-work up tersebut adalah pemeriksaan komponen-komponen darah. Pada sepsis neonatal trombositopenia dapat ditemukan pada 10-60 % pasien. Jumlah trombosit biasanya kurang dari 100.000 dan pada 1-3 minggu setelah diagnosis sepsis ditegakkan. Sel darah putih dianggap lebih sensitif dalam menunjang diagnosis ketimbang hitung trombosit. Enam puluh persen pasien sepsis biasanya disertai perubahan hitung neutrophil. Rasio antara neutrophil imatur dan neutrophil total sering dipakai sebagai penunjang diagnosis sepsis neonatal. Sensitifitas rasio I/T ini 60-90% karenanya untuk diagnosis perlu disertai kombinasi dengan gambaran klinik dan pemeriksaan penunjang lain.(1)

            C-Protein (CRP) yaitu protein yang timbul pada fase akut kerusakan jaringan, meningkat pada 50-90% pasien sepsis neonatal. Peninggian kadar CRP ini terjadi 24 jam setelah terjadi sepsis, meningkat pada hari ke 2-3 sakit dan menetap tinggi sampai infeksi teratasi. Karena protein ini dapat meningkat pada berbagai kerusakan jaringan tubuh, pemeriksaan ini tidak dapat dipakai sebagai indikator tunggal dalam menegakkan sepsis neonatal. Nilai CRP akan lebih bermanfaat bila dilakukan secara serial karena dapat karena dapat memberikan informasi respons pemberian antibiotika serta dapat pula dipergunakan untuk menentukan lamanya pemberian pengobatan dan kejadian kekambuhan pada pasien dengan sepsis neonatal.(1)

            Dari bahasan di atas terungkap bahwa pemeriksaan CRP dan beberapa komponen darah lain seperti rasio IT, kadar trombosit darah, dll yang dipakai sebagai penunjang diagnosis dini mempunyai kemampuan yang terbatas. Dilain pihak diagnosis dini sepsis merupakan faktor penentu dalam keberhasilan penatalaksanaan sepsis neonatal. Salah satu upaya yang dilakukan akhir-akhir ini dalam menentukan diagnosis dini sepsis adalah pemeriksaan biomolekular. Dibandingkan dengan biakan darah, pemeriksaan ini dilaporkan mampu lebih cepat memberikan informasi jenis kuman. Dibeberapa kota besar di inggris, pemeriksaan cara ini telah dilakukan pada semua fasilitas labolatorium untuk deteksi kuman tertentu antara lain. N.Meningitis dan S.Pneumoniae. Selain manfaat untuk deteksi dini, Polymerase chain Reaction (PCR) mempunyai kemampuan pula untuk mendiagnosis menentukan prognosis pasien sepsis neonatal.
           
            Dari riwayat penyakit, gejala klinik, pemeriksaan penunjang ataupun pemeriksaan laboratorium tampaknya belum ada informasi tunggal yang dapat dipakai sebagai indikator sepsis sehingga perlu dipertimbangkan kombinasi berbagai informasi dalam menentukan diagnosis. Di berbagai negara, baik negara maju maupun berkembang, banyak upaya dilakukan dengan mempergunakan bermacam-macam kombinasi antara faktor risiko, gejala klinik dan pemeriksaan penunjang untuk diagnosis dini pasien sepsis neonatal. Ketajaman diagnosis dengan cara ini juga berbeda-beda, upaya pendekatan melalui scoring system ini mungkin merupakan jalan pintas terbaik yang dapat digunakan bila pemeriksaan canggih seperti yang disebutkan terdhulu belum dapat dilaksanaan di masing-masing klinik.

F. LANGKAH PROMOTIF & PREVENTIF

1. Mencegah dan mengobati ibu demam dengan kecurigaan infeksi berat atau intrauterin
2. Mencegah dan mengobati ibu dengan ketuban pecah dini
3. Perawatan antenatal yang baik
4. Mencegah aborsi yang berulang, cacat bawaan
5. Mencegah persalinan premature
6. Melakukan pertolongan persalinan yang bersih dan aman
7. Mencegah asfiksia neonatorum
8. Melakukan resuitasi dengan benar
9. Melakukan tindakan pencegahan infeksi
10. Melakukan identifikasi awal terhadap faktor risiko sepsis dan pengelolaan yang efektif. (3)

G. LANGKAH DIAGNOSTIK

a. Anamnesis
1. Riwayat ibu mengalami infeksi intra uterin, demam dengan kecurigaan infeksi berat atau ketuban pecah dini.
2. Riwayat persalinan tindakan, pertolongan persalinan, lingkungan persalinan yang kurang higienis.
3. Riwayat lahir asfiksia berat, bayi kurang bulan, bayi berat lahir rendah.
4. Riwayat bayi malas minum dan penyakitnya cepat memberat
5. Riwayat air ketuban keruh bercampur meconium
6. Riwayat bayi lunglai, mengantuk atau aktifitas berkurang atau iritabel/rewel, muntah, perut kembung, tidak sadar, kejang. (3)

b. Pemeriksaan Fisis
1. Keadaan umum ; Suhu tidak normal, letargi atau lunglai, mengantuk atau aktifitas berkurang, malas minum sebelumnya minum dengan baik, iritabel atau rewel, kondisi memburuk secara cepat dan dramatis.
2. Gastrointestinal ; Muntah, diare, perut kembung, hepatomegaly, tanda mulai muncul sesudah hari ke empat.
3. Kulit ; Perfusi kurang, mottling, sianosis, pucat, petekia, ruam, sklerem, ikterik.
4. Kardiopulmonal ; Takipneu, Distress pernapasan (merintih, retraksi) takikardi, hipotensi.
5. Neurologis ; Iritabilitas, penurunan kesadaran, kejang, ubun-ubun membonjol, kaku kuduk sesuai dengan meningitis. (3)

c. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan jumlah leukosit dan hitung jenis secara serial untuk menilai perubahan akibat adanya infeksi, adanya leukositosis atau leukopeni, neutropenia, peningkatan rasio neutrophil imatur/ total ( I/T) >0,2
2. Peningkatan protein fase akut ( C-Reaktive Protein), peningkatan Ig-M.
3. Ditemukan kuman pada pemeriksaan kultur, pengecatan gram dari darah, urin dan cairan serebrospinal serta dilakukan uji kepekaan kuman.
4. Analisa gas darah ditemukan hipoksia, asidosis metabolic, asidosis laktat.
5. Pada pemeriksaan cairan serebrospinal ditemukan peningkatan jumlah leukosit, terutama PMN, jumlah leukosit 20/ml ( umur kurang dari 7 hari) dan 10/ml (umur lebih dari 7 hari), meningkatnya kadar protein, penurunan kadar glukosa serta pada pengecatan gram ditemukan kuman. Gambaran ini sesuai dengan meningitis yang terjadi pada sepsis.
6. Gangguan metabolik ; hopoglikemi atau hiperglikemi, asidosis metabolic
7. Peningkatan kadar bilirubin. (3)

d. Radiologis
      Pada foto dada dapat ditemukan ;
1.     Pnemonia kongenital dan infeksi intrauterine : Ditemukan gambaran konsolidasi bilateral atau efusi pleura.
2.   Pnemonia dan infeksi intrapartum ; infiltrasi dan destruksi jaringan bronkopulmoner, atelektasis segmental, gambaran retikogranuler difus (Seperti penyakit membrane hialin) efusi pleura.
3.     Pneumonia dan infeksi postnatal ; Gambarannya sesuai dengan pola kuman temppat dimana bayi dirawat.
4.   Pada CT Scan dapat ditemukan obstruksi aliran cairan serebrospinal, infark atau abses. Pada ultrasonografi dapat ditemukan ventrikulitis. (3)

H.   PENATALAKSANAAN

a.     Tata laksana umum
            Pemberian pengobatan pasien biasanya dengan memberikan antobiotik kombinasi yang bertujuan untuk memperluas cakupan mikroorganisme pathogen yang mungkin diderita pasien. Di upayakan kombinasi antibiotik tersebut mempunyai sensitifitas yang baik terhadap kuman gram negatif, Tergantung pola dan resistensi kuman di masing-masing Rumah sakit biasanya antibiotik yang di pilih adalah golongan ampisilin/ Kloksasilin/ Vankomisin dan golongan aminoglikosid/ sefalosporin. (1)

            Lamanya pengobatan sangat bergantung kepada jenis kuman penyebab. Pada penderita yang disebabkan oleh gram positif, pemberian antibiotik dianjurkan selama 10-14 hari, sedangkan penderita dengan kuman gram negative pengobatan dapat diteruskan sampai 2-3 minggu. (3)
Kecurigaan besar sepsis :

A.   Antibiotik
            Antibiotik awal diberikan ampisilin dan gentamisin bila organisme tidak dapat ditemukan dan bayi tetap menunjukkan tanda infeksi sesudah 48 jam, ampisilin diganti dengan cetazidim atau sefotaksim disamping tetap diberikan gentamisin. Jika ditemukan organisme penyebab infeksi, digunakan antibiotik sesuai uji kepekaan kuman. Antibiotika diberikan sampai 7 hari setelah ada perbaikan. Pada sepsis dengan meningitis, pemberian antibiotic sesuai pengobatan meningitis.(3)
B.    Respirasi
            Mencegah potensi jalan napas dan pemberian oksigen untuk mencegah hipoksia. Pada kasus tertentu membutuhkan ventilator mekanik.
C.    Kardiovaskular
            Pasang jalur IV dan beri cairan dengan dosis rumat serta pemantauan tensi dan perfusi jaringan untuk cegah syok.
D.   Hematologi
            Transfusi komponen darah jika diperlukan atasi kelainan yang mendasari.
E.    Tunjangan nutrisi adekuat (3)


b.     Tata Laksana Khusus
            Pengobatan terhadap tanda khusus lain atau penyakit penyerta serta komplikasi yang terjadi ( misalnya ; kejang, gangguan metabolic, hematologi, respirasi, gastrointestinal, kardiorespirasi, hiperbilirubinemia). Pada kasus tertentu dibutuhkan imunoterapi dengan pemberian immunoglobulin, antibody monoclonal atau transfuse tukar ( bila fasilitas memungkinkan ). Untuk tindakan bedah pada kasus tertentu misalnya hydrocephalus dengan akumulasi progresif, enterokolitis nekrotikan diperlukan tindakan bedah. Rujukan subspesialis, dan spesialisasi lainnya bersamaan dengan subdivisi neurologi anak, pediatric sosial dan rehabilitasi medik. (3)

c.     Terapi
*) Dugaan Sepsis  
            Pengobatan menggunakan daftar tabel temuan yang berhubungan dengan sepsis. Jika tidak ditemukan temuan infeksi intrauterine, ditemukan satu kategori A dan satu atau dua kategori B maka kelola untuk tanda khusunya ( misalnya kejang). Lakukan pemantauan. Jika ditemukan tambahan tanda sepsis maka dikelola sebagai kecurigaan besar sepsis.

*) Kecurigaan besar sepsis
1. Pada bayi umur sampai dengan 3 hari ; bila ada riwayat ibu infeksi Rahim, demam dengan kecurigaan berat infeksi leukosit > 20.000/mm3, ketuban pecah dini atau bayi memiliki dua atau lebih kategori A atau lebih kategori B.
2. Pada bayi umur lebih dari 3 hari ; Bila bayi memiliki dua atau lebih temuan kategori A, tiga atau lebih temuan kategori B. Transfusi tukar dilakukan jika tidak ditemukan perbaikan klinik dan laboratorium setelah pemberian antibiotik adekuat. (3)



Tabel 1.1 Kelompok temuan yang berhubungan dengan sepsis

Kategori A
1.     Kesulitan bernapas (misalnya ; apnea, napas lebih dari 60x/m, retraksi dinding dada, grunting pada wajtu ekspirasi, sianosis sentral.
2.     Kejang
3.     Tidak sadar
4.     Suhu tubuh tidak normal, ( Tidak normal sejak lahir dan tidak memberi respon terhadap terapi atau suhu tidak stabil sesudah pengukuran suhu normal selama 3 kali atau lebih, menyokong ke arah sepsis )
5.     Persalinan di lingkungan yang kurang higienis ( menyokong ke arah sepsis)
6.     Kondisi memburuk secara cepat / dan dramatis (Menyokong ke arah sepsis).


Kategori B
1.     Tremor
2.     Letargi atau lunglai
3.     Mengantuk atau aktifitas berkurang
4.     Iritabel dan rewel
5.     Muntah ( menyokong kearah sepsis)
6.     Perut kembung (menyokong ke arah sepsis)
7.     Tanda-tanda mulai muncul setelah hari ke-empat (Menyokong ke arah sepsis)
8.     Air ketuban bercampur meconium
9.     Malas minum, sebelumnya minum dengan baik (Menyokong ke arah sepsis)

Tabel 1.2 Dosis antibiotik untuk sepsis

Antibiotik                               cara pemberian                                 Dosis dalam mg

                                                                                                    Hari 1-7           Hari 8+

Ampisilin                                 IV/IM                             50mg/kg/12jam     50mg/kg/8jam
                                                                                               100mg/kg             100mg/kg

Ampisilin u/meningitis                 IV                                Setiap 12 jam         Setiap8jam
                                                                                              50 mg/kg               50mg/kg

Sefotaxime                               IV, IM                             Setiap 12 jam          Setiap8jam
                                                                                             50 mg/kg                50mg/kg

Sefotaxime                              IV (dlm 10mnt)             Setiap 6 jam                Setiap 6 jam
Untuk meningitis                                                              50mg/kg                      50mg/kg

Seftazidim                              IV/IM                              Setiap 12 jam            Setiap 8jam



Tabel 1.3 Dosis Gentamisin untuk sepsis
Antibiotik         Cara                                      Dosis dalam (5mg/kg/kali)
                       Pemberian                 Hari 1-7              Hari 8-30                  >hari 30

Gentamisin       IV/IM                      < 1200g
                        (dlm 30 menit)       Setiap 48jam          Setiap 36 jam          Setiap 24 jam
                                                          > 1200g
                                                       Setiap 36 jam        Setiap 24 jam           Setiap 24 jam


            Walaupun pemberian antibiotik masih merupakan tata laksana utama pengobatan sepsis neonatal , berbagai upaya pengobatan tambahan ( adjunctive therapy, adjuvant therapy ) banyak dilaporkan dalam jumlah upaya memperbaiki mortalitas bayi. Pengobatan tambahan atau terapi inkonvensional semacam ini selain mengatasi berbagai defesiensi dan belum matangnya fungsi pertahanan tubuh Bayi baru lahir, juga dalam rangka mengatasi perubahan yang terjadi dalam perjalanan penyakit dan cascade inflamasi pasien sepsis neonatal. Beberapa terapi inkonvensional yang sering diberikan antara lain ;

1.     Pemberian immunoglobulin secara intravena ( Intravenous Immunoglobulin – IVIG)
Pemberian immunoglobulin dilakukan dengan harapan dapat meningkatkan antibody tubuh serta memperbaiki fagositosis dan kemotaksis sel darah putih. Manfaat pemberian IVIG sebagai tata laksana tambahan pada penderita sepsis neonatal masih kontroversi. Penurunan mortalitas ditemukan secara bermakna pada suatu penelitian tetapi pada penelitian lain IVIG tidak memperlihatkan perbedaan. Suatu studi multisenter memperlihatkan terdapat penurunan mortalitas neonatal sepsis pada 7 hari pertama pemberian, tetapi kelangsungan hidup selanjutnya tidak bermakna. Dalam suatu studi yang dilakukan terhadap bayi yang mendapatkan profilaksis IVIG dan 110 bayi menerima IVIG sebagai terapi sepsis dilaporkan bahwa pemberian IVIG tersebut lebih bermanfaat sebagai profilaksis sepsis neonatal ( Khususnya pada bayi BBLR) dibandingkan bila dipakai sebagai terapi standar sepsis. (1)

2.     Pemberian Fresh Frozen Plasma (FFP)
Perubahan hematologik dan gangguan koagulasi ditemukan pula pada perjalanan penyakit sepsis neonatal. Pemberian FFP diharapkan dapat mengatasi gangguan koagulasi yang diderita pasien. Salah satu gangguan koagulasi yang mungkin ditemukan antara lain pembekuan intravaskuler menyeluruh (Disseminated Intravaskuler Coagulation – DIC ). Di samping faktor koagulasi, FFP juga mengandung antibody, komplemen dan protein lain seperti C-Reaktive Protein dan fibronectin. Walaupun FFP mengandung antibody protektif tertentu namun pemberian FFP dengan tujuan meningkatkan kadar proteksi bayi, tidak akan banyak berfaedah. Dalam suatu studi bahkan melaporkan bahwa FFP pada kenyataanya hanya meningkatkan IgA dan IgM bayi tanpa meningkatkan kadar IgG. Selanjutnya dikemukakan dengan tersedianya gammaglobulin intravena (Intravena Immunoglobulin – IVIG) Pemberian IVIG ini akan jauh lebih aman dalam menghindarkan efek samping pemberian FFP. (1)

3.     Tindakan Transfusi tukar
Tindakan ini merupakan terapi tambahan yang tidak jarang dilakukan pada beberapa klinik dalam menanggulangi sepsis neonatal, tindakan ini bertujuan untuk ;
a.     Mengeluarkan/mengurangi toksin atau produk bakteri serta mediator-mediator penyebab sepsis.
b.     Memperbaiki fungsi perifer dan pulmonal dengan meningkatkan kapasitas oksigen
c.            Memperbaiki sistem imun dengan adanya tambahan neutrofil dan berbagai antibodi yang mungkin terkandung dalam darah donor. (1)

Hal yang perlu dipertimbangkan dalam tindakan ini adalah sulitnya pelaksanaan dan resiko timbulnya reaksi transfusi. Selain beberapa upaya diatas berbagai tata laksana lain dilakukan pula dalam rangka mengatasi mortalitas dan morbiditas sepsis neonatal. Pemberian transfusi granulosit dikemukakan dapat memperbaiki pengobatan pada penderita. Hal ini dilakukan karena produksi dan respons fungsi sel darah putih yang menurun pada keadaan sepsis neonatal. Demikian pula pemberian transfuse packed red blood cells dikemukakan dapat bermanfaat dalam terapi sepsis neonatal. Alasan yang dikemukakan dalam pemberian transfuse ini adalah untuk mengatasi keadaan anemia dan menjamin oksigenasi jaringan yang optimal pada pasien sepsis. Dalam berbagai kepustakaan eksperimental maupun studi klinis saat ini banyak dilakukan untuk menghambat cascade inflamasi dengan mempertimbangkan proses imunologik yang terjadi. (1)

I. KOMPLIKASI
Berupa gejala sisa neurologis retardasi mental. Gangguan penglihatan, gangguan konsentrasi, serta kelainan tingkah laku. (4)

J. KESIMPULAN

            Di negara berkembang infeksi Bayi baru lahir masih merupakan masalah penting dalam pelayanan dan perawatan Bayi baru lahir. Kematian karena infeksi merupakan penyebab utama kematian Bayi baru lahir dan biasanya terjadi karena tetanus neonatorum, sepsis dan meningitis. Mortalitas tetanus neonatal sudah banyak mengalami perbaikan, tetapi kematian disebabkan sepsis belum memperlihatkan perbaikan yang bermakna. Keadaan ini terjadi karena diagnosis dini sepsis sulit ditegakkan. Gejala dan tanda sepsis klasik jarang ditemukan pada Bayi baru lahir, biakan darah yang merupakan baku emas dalam diagnosis membutuhkan waktu 3-5 hari untuk memperoleh hasil. Demikian pula pemeriksaan penunjang seperti C-Reaktive protein I/T dll tidak spesifik dan sulit dipakai sebagai pegangan dalam diagnosis yang dapat mengakibatkan kematian bayi atau berakhir dengan cacat yang memerlukan pengobatan sepanjang hayat. (1)

            Upaya lain dalam menentukan diagnosis dini adalah melalui elaborasi system respons imun pasien sepsis. Dilaporkan bahwa sitokin yang beredar dalam sirkulasi pasien sepsis neonatal dapat dideteksi 2 hari sebelum gejala klinis sepsis muncul. Penemuan ini memungkinkan tata laksana sepsis yang lebih efisien dan efektif pada bayi yang beresiko. Kedua pemeriksaan terakhir ini membutuhkan teknologi kedokteran yang lebih canggih dan mahal yang mungkin belum dapat terjangkau untuk negara berkembang. (5)

            Eliminasi kuman merupakan pilihan utama dalam penatalaksanaan sepsis neonatal karenanya pengobatan pasien sepsis neonatal harus dilakukan sedini mungkin agar komplikasi yang tidak diinginkan dapat dihindarkan. Pada kenyataannya penentuan kuman penyebab pasti tidak mudah dan membutuhkan waktu. Agar pengobatan pasien dapat dilakukan dengan hasil optimal, pemberian antibiotika empiris harus dilakukan sesegera mungkin dengan memperhatikan pola resistensi kuman penyebab yang tersering ditemukan masing-masing klinik. Selain pola kuman hendaknya diperhatikan pula resistensi kuman, segera mungkin setelah didapatkan hasil kultur darah, jenis antibiotika yang dipakai disesuaikan dengan kuman penyebab. (1)

KAJIAN ISLAM

Sesuatu yang tidak akan dipungkiri siapa pun adalah kehidupan ini tidak hanya dalam satu keadaan. Ada senang, ada duka. Ada canda, begitu juga tawa. Ada sehat, namun juga adakalanya sakit. Dan semua ini adalah sunnatullah yang mesti dihadapi orang manapun.
Di antara hal yang paling menarik dalam hal ini adalah di mana seorang manusia menghadapi ujian berupa sakit. Tentu keadaan sakit ini lebih sedikit dan sebentar dibanding keadaan sehat. Yang perlu diketahui oleh setiap muslim adalah tidaklah Allah menetapkan (mentaqdirkan) suatu taqdir melainkan di balik taqdir itu terdapat hikmah, baik diketahui ataupun tidak. Dengan demikian, hati seorang muslim harus senantiasa ridho dan pasrah kepada ketetapan Rabb-nya.
Saat seseorang mengalami sakit, hendaknya ia menyadari bahwa Rasulullah SAW yang merupakan manusia termulia sepanjang sejarah juga pernah mengalaminya.


Hiburan Untuk Orang yang Tertimpa Musibah
Agar sakit itu berbuah kebahagiaan, bukan keluh kesah, hendaknya seorang muslim mengetahui janji-janji yang Allah berikan, baik dalam Al Quran maupun melalui lisan Rasul-Nya, Muhammad SAW.
Allah Ta’ala berfirman :

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚوَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُون
Artinya:
Katakanlah (Muhammad), ‘Tidak akan menimpa kami kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang beriman harus bertawakal.’” (QS. At Taubah: 51).

Juga firman-Nya,
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (٢٢) لِكَيْلا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (٢٣)  
Artinya:
Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Al Hadid: 22-23)

Rasulullah SAW bersabda,:
 Tidaklah seorang muslim yang tertimpa gangguan berupa penyakit atau semacamnya, kecuali Allah akan menggugurkan bersama dengannya dosa-dosanya, sebagaimana pohon yang menggugurkan dedaunannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sesungguhnya besarnya pahala itu berbanding lurus dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Siapa yang ridha, baginya ridha(Nya), namun siapa yang murka, maka baginya kemurkaan(Nya).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Setiap Penyakit Pasti ada Obatnya
Hal lain yang seyogyanya diketahui oleh seorang muslim adalah tidaklah Allah menciptakan suatu penyakit kecuali Dia juga menciptakan penawarnya. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW

مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً
Artinya :
 Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia juga menurunkan penawarnya.” (HR Bukhari).

Imam Muslim ‘merekam’ sebuah hadits dari Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah SAW bahwasannya beliau bersabda,
لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءُ، فَإِذَا أُصِيْبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ
Artinya:
Setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat itu tepat untuk suatu penyakit, penyakit itu akan sembuh dengan seizin Allah ‘Azza wa Jalla.

Kesembuhan itu hanya Datang dari Allah
Allah berfirman menceritakan kekasih-Nya, Ibrahim ‘alaihissalam,

وَ إِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ
Artinya:
Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.” [QS Asy Syu’ara: 80]


Di surat Al An’am (ayat: 17)

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إِلا هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya:
 Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.”

 




DAFTAR PUSTAKA


1.     Buku Ajar Neonatologi, 2010 “Sepsis pada bayi baru lahir” , Kedokteran ; Jakarta.
2.     Kedokteran fetal dan neonatal 2012; Bagian 11 ; “Sepsis dan meningitis”
3.     Standar Pelayanan Medik 2013 ; “Kesehatan Anak” Dept. Ilmu kesehatan Anak FK-UNHAS.
4.     Kapita Selekta Kedokteran, 2014 ; “Sepsis Neonatorum”, Media Aesculapius, Jakarta.
5.     Nelson, Ilmu Kesehatan Anak Vol.2 2012 ; “ Sepsis dan syok” EGC


Komentar

Postingan populer dari blog ini