Langsung ke konten utama

Referat Stase Jiwa ; Depresi Pasca Skizofrenia #CatatanDokterMuda


( Chintasih Masnitarini )
BAB I
PENDAHULUAN

               Kesehatan merupakan aspek yang sangat penting bagi manusia. Dalam undang-undang no.23 tahun 1992 dijelaskan bahwa kesehatan adalah keadaan sejahtera badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang dapat hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Atas dasar defenisi tersebut dapat dikatakan bahwa kesehatan jiwa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan dan unsur utama dalam terwujudnya kualitas hidup yang utuh. (1)
             Masalah gangguan jiwa di seluruh dunia memang sudah menjadi masalah yang sangat serius. Skizofrenia merupakan salah satu gangguan kesehatan jiwa yang paling sering menjadi perhatian dan dikategorikan dalam gangguan psikis yang paling serius karena dapat menyebabkan menurunnya fungsi manusia dalam melaksanakan aktifitas kehidupan sehari-hari seperti kesulitan merawat diri sendiri, bekerja, bersekolah memenuhi kewajiban peran dan membangun hubungan yang dekat dengan seseorang.
Skizofrenia merupakan gangguan psikotik yang paling sering. Hampir 1% penduduk dunia menderita skizofrenia selama hidup mereka. Gejala skizofrenia biasa muncul pada usia remaja akhir atau dewasa muda. Awitan pada laki-laki biasanya antara 15 - 25 tahun dan pada perempuan antara 25-35 tahun. Prognosa biasanya lebih buruk pada laki-laki bila dibandingkan pada perempuan. (1)
Skizofrenia sama prevalensinya antara laki-laki dan wanita. Tetapi dua jenis kelamin tersebut menunjukkan perbedaan dalam onset dan perjalanan penyakit. Laki-laki mempunyai onset lebih skizofrenia lebih awal daripada wanita.(2) Dalam sejarah perkembangan skizofrenia sebagai gangguan klinis banyak tokoh neurologi yang berperan, mula-mula Emil Kreaplin 1926 menyebutkan gangguan dengan istilah dementia precox yaitu suatu istilah yang menekankan proses kognitif yang berbeda dan onset pada masa awal, Istilah skizofrenia itu sendiri diperkenalkan oleh Eugen Bleurer ( 1857 – 1939 ), untuk menggambarkan munculnya perpecahan antara pikiran, emosi dan perilaku pada pasien yang mengalami gangguan ini. Bleuler mengindentifikasi symptom dasar dari skizofrenia yang dikenal dengan 4 A antara lain ; Asosiasi, Afek, Autisme dan Ambivalensi.
Walaupun insidennya hanya 1 per 1000 orang di Amerika serikat skizofrenia seringkali ditemukan di gawat darurat karena beratnya gejala, ketidakmampuan untuk merawat diri, hilangnya tilikan dan pemburukan sosial yang bertahap. Kedatangan di gawat darurat atau di tempat praktik disebabkan oleh halusinasi yang menimbulkan ketegangan yang mungkin dapat mengancam jiwa baik dirinya maupun orang lain, perilaku kacau, inkoherensi, agitasi dan penelantaran.
Onset skizofrenia sebelum usia 10 tahun atau sesudah 50 tahun adalah sangat jarang. Kira-kira 90% pasien dalam pengobatan skizofrenia adalah antara usia 15 dan 55 tahun. Beberapa penelitian telah menyatakan bahwa laki-laki lebih mungkin dari pada perempuan untuk terganggu oleh gejala negatif dan bahwa wanita lebih mungkin  memiliki fungsi sosial yang lebih baik daripada laki-laki. Pada umumnya, hasil akhir untuk pasien skizofrenik perempuan adalah lebih baik daripada hasil akhir untuk pasien skizofrenik laki-laki. .(3)
Diagnosis skizofrenia menurut sejarah mengalami perubahan-perubahan. Ada beberapa cara menegakkan diagnosis. Pedoman untuk menegakkan diagnostik adalah DSM-IV (Diagnostic and Statistical manual) dan PPDGJ2-III/ICD-X. .(1)
            Ada beberapa subtype skizofrenia yang diidentifikasi berdasarkan variable klinik :

F 20.0 Skizofrenia paranoid
F 20.1 Skizofrenia disorganisasi (hebefrenik)
F 20.2 Skizofrenia katatonik
F 20.3 Skizofrenia tak terinci
F 20.4 Depresi pasca skizofrenia (1)
F 20.5 Skizofrenia residual
F 20.6 Skizofrenia simpleks
F 20.7 Skizofrenia lainnya
F 20.8 Skizofrenia yang tak tergolongkan. (1)

BAB II
PEMBAHASAN

1. Definisi
 Skizofrenia adalah penyakit yang ditandai oleh gejala-gejala yang meliputi kelainan kepribadian , cara berpikir, emosi, tingkah laku, dan hubungan dengan orang lain serta terdapat kecenderungan untuk menarik diri dari realitas ke dalam dunianya sendiri. Kecenderungan untuk membentuk hubungan yang khas dalam berpikir dan memproyeksikannya.(4). Suatu episode depresif yang mungkin berlangsung lama dan timbul sesudah suatu serangan skizofrenia. Depresi pasca skizofrenia, dimana masih terdapat beberapa gejala skizofrenia tetapi tidak mendominasi gambaran klinisnya. (1,5)
Depresi merupakan salah satu bentuk gangguan kejiwaan pada alam perasaan yang ditandai dengan kemurungan, keleluasaan, ketiadaan gairah hidup, perasaan tidak berguna, putus asa dan lain sebagainya. Diperkirakan Prevalensi depresi pada populasi dunia adalah 3 – 8 % dengan 50 % kasus terjadi pada usia produktif antara 20 – 50 tahun. WHO, Memperkirakan pada tahun 2020 Depresi akan menduduki peringkat kedua setelah penyakit jantung coroner dalam urutan penyakit yang menimbulkan beban global dunia. Sekitar 20 % wanita dan 12 % Pria. (6)
Masalah kesehatan jiwa merupakan masalah kesehatan masyarakat yang besar dibandingkan masalah kesehatan lainnya. Depresi pasca skizofrenia merupakan suatu Gejala depresif yang mempengaruhi seluruh tubuh dengan mengganggu kesehatan mental, kesehatan fisik, rasa dan perilaku terhadap aktifitas yang biasa dilakukan. Semakin cepat keluarga memeriksakan anggota keluarganya yang dicurigai depresi ke pelayanan kesehatan semakin cepat strategi penanganan yang sesuai untuk menghadapi masalah ini yang sebetulnya adalah gangguan yang sangat nyata terhadap kesehatan (6).

2. Etiologi
Ada beberapa teori yang mungkin bisa menjelaskan penyebab skizofrenia. Adapun teori-teori tersebut seperti tersebut di bawah ini:
1.     Teori Neurotransmitter
Di dalam otak manusia terdapat berbagai macam neurotransmitter, yaitu substansi atau zat kimia yang bertugas menghantarkan impuls-impuls saraf. Ada beberapa neurotransmitter yang diduga berpengaruh terhadap timbulnya skizofrenia. Dua di antaranya yang paling jelas adalah neurotransmitter dopamine dan serotonin. Berdasarkan penelitian, pada pasien-pasien dengan skizofrenia ditemukan peningkatan kadar dopamine dan serotonin di otak secara relatif.(1,2,5)
2.              Teori biologik dan Genetik
Penelitian keluarga sangat mendukung teori bahwa faktor genetik mempunyai peran penting dalam trasmisi skizofrenia.(2,6)
Dari penelitian didapatkan prevalensi sebagai berikut:
Ø  Populasi umum                                                           1%
Ø  Saudara Kandung                                                        8%
Ø  Anak dengan salah satu orang tua skizofrenia            12%
Ø  Kembar 2 telur (dizigot)                                             12%
Ø  Anak dengan kedua orang tua skizofrenia                   40%
Ø  Kembar monozigot pasien skizofrenia                       47%

3.     Abnormalitas Perkembangan Syaraf
Penelitian menunjukkan bahwa malformasi janin minor yang terjadi pada awal gestasi berperan dalam manifestasi akhir dari skizofrenia. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan saraf dan diidentifikasi sebagai resiko yang terus bertambah, meliputi individu yang ibunya terserang influenza pada trimester kedua, individu yang mengalami trauma atau cedera pada waktu dilahirkan, dan penganiayaan atau trauma di masa bayi atau masa anak-anak. (1,6)

4.     Abnormalitas Struktur dan Aktivitas Otak
Pada beberapa subkelompok penderita skizofrenia, teknik pencitraan otak (CT, MRI, dan PET) telah menujukkan adanya abnormalitas pada struktur otak yang meliputi pembesaran ventrikel, penurunan aliran darah ventrikel, terutama di korteks prefrontal penurunan aktivitas metabolik di bagian-bagian otak tertentu atrofi serebri. Ahli neurologis juga menemukan pemicu dari munculnya gejala skizofrenia. Pada para penderita skizofrenia diketahui bahwa sel-sel dalam otak yang berfungsi sebagai penukar informasi mengenai lingkungan dan bentuk impresi mental jauh lebih tidak aktif dibanding orang normal. (1,6,)

5.     Ketidakseimbangan Neurokimia ( neurotransmitter)
Skizofrenia memiliki basis biologis, seperti halnya penyakit kanker dan diabetes. Penyakit ini muncul karena ketidakseimbangan yang terjadi pada dopamine yakni salah satu sel kimia dalam otak (neurotransmitter). Otak sendiri terbentuk dari sel saraf yang disebut neuron dan kimia yang disebut neurotransmitter.
Penelitian terbaru bahkan menunjukkan serotonin, norepinefrin, glutamate, dan GABA juga berperan dalam menimbulkan gejala-gejala skizofrenia. Majorie Wallace, pimpinan eksekutif yayasan Skizofrenia SANE, London, berkomentar bahwa, di dalam otak terdapat miliaran sambungan sel. Setiap sambungan sel menjadi tempat untuk meneruskan maupun menerima pesan dari sambungan sel lainnya. Sambungan sel tersebut melepaskan zat kimia yang disebut neurotransmitter yang menbawa pesan dari ujung sambungan sel yang satu ke ujung sambungan sel yang lain. Di dalam otak penderita skizofrenia, terdapat kesalahan atau kerusakan pada sistem komunikasi tersebut. Biasanya mereka mengalami halusinasi. (1,6) 

6.     Proses Psikososial dan Lingkungan
Proses psikososial dan lingkungan juga sangat berpengaruh untuk menyebabkan skizofrenia. Setiap orang pada umumnya memiliki kecenderungan untuk skizofrenia 1%.  Pada individu yang memiliki hubungan dekat dengan seseorang yang terjangkit skizofrenia, kecenderungannya sekitar 10%. Jika seseorang hidup dalam lingkungan yang mendukung asosial, kemungkinan seseorang untuk mengidap skizofrenia tinggi. Namun bila seseorang hidup dalam lingkungan yang terbuka, walaupun secara genetik dia memiliki kecenderungan skizofrenia, hal itu bisa diminimalisir bahkan dihilangkan. (1,2,5)

3. Kriteria Diagnostik
Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia edisi ketiga (PPDGJ III) membagi simtom skizofrenia dalam kelompok-kelompok penting dan yang sering terdapat secara bersama-sama untuk diagnosis. (7)
Kelompok simptom tersebut:
a.     Thought echo, thought insertion, thought withdrawal, dan thought,broadcasting.
b.     Waham dikendalikan, waham dipengaruhi, atau passivity yang jelas merujuk pada pergerakan   tubuh atau pergerakan anggota gerak, atau pikiran, perbuatan atau perasaan khusus, dan persepsi delusional.
c.     Suara halusinasi yang berkomentar secara terus-menerus terhadap perilaku pasien atau mendiskusikan perihal pasien di antara mereka sendiri, atau jenis suara halusinasi lain yang berasal dari satu bagian tubuh.
d.     Waham-waham menetap jenis lain yang menurut budayanya dianggap tidak wajar serta sama sekali mustahil, seperti misalnya mengenai identitas keagamaan atau politik, atau kekuatan dan kemampuan manusia super (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan makhluk asing dari dunia lain).
e.     Halusinasi yang menetap dalam setiap modalitas, apakah disertai baik oleh waham yang mengambang/melayang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun oleh ide-ide berlebihan yang menetap atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus-menerus.
f.      Arus pikiran yang terputus atau yang mengalami sisipan yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau neologisme.
g.     Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh gelisah, sikap tubuh tertentu, atau fleksibilitas serea, negativisme, mutisme, dan stupor.
h.     Simptom negatif, seperti sikap apatis, pembicaraan terhenti, dan respons emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial, tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika.
i.      Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan dari beberapa aspek perilaku perorangan, bermanifestasi sebagai hilangnya minat, tak bertujuan, sikap malas, sikap berdiam diri, dan penarikan diri secara sosial. (7)

Pedoman diagnostik:
            Untuk menegakkan diagnosis skizofrenia harus ada sedikitnya satu simptom tersebut di atas yang amat jelas ( dan biasanya dua simptom atau lebih, apabila simptom tersebut kurang tajam atau kurang jelas ) dari simptom yang termasuk salah satu dari kelompok (a) sampai dengan (d) tersebut di atas, atau paling sedikit dua simptom dari kelompok (e) sampai dengan (h) yang harus selalu ada secara jelas selama kurun waktu satu bulan atau lebih. (2)

Selain itu para ahli membagi gejala skizofrenia menjadi dua bagian, yaitu :
1.     Gejala positif
·      Disorganisasi pikiran dan bicara. Penderita biasa menceritakan keadaan sedih dengan mimik muka yang gembira atau sebaliknya.
·      Waham. Penderita merasa dirinya seorang pahlawan dan bertindak seperti seorang pahlawan.
·      Halusinasi dan gangguan persepsi lainnya
·      Agitasi atau mengamuk(8)
2.     Gejala negatif
·      Tidak ada dorongan kehendak atau inisiatif atau apatis
·      Menarik diri dari pergaulan sosial
·      Afek datar
·      Anhedonia ( tidak mampu merasakan kesenangan )
·      Tidak menunjukan emosi emosional (8)
  
            Suatu episode depresif yang mungkin berlangsung lama dan timbul sesudah suatu serangan skizofrenia. Depresi pasca skizofrenia, dimana masih terdapat beberapa gejala skizofrenia tetapi tidak mendominasi gambaran klinisnya. Gejala-gejala yang menetap ini dapat “positif” atau “negatif”, walaupun biasanya yang sering adalah gejala negatif. (2)
Pedoman diagnostik :
  1. Pasien telah menderita skizofrenia ( memenuhi kriteria umum skizofrenia ) selama 12 bulan terakhir.
  2. Beberapa gejala skizofrenia masih tetap ada.
  3. Gejala-gejala depresif menonjol dan mengganggu, memenuhi sedikitnya kriteria untuk episode depresif dan telah ada paling sedikit dua minggu. (2,6)
Apabila tidak lagi mempunyai gejala skizofrenik, diagnosis harus suatu episode depresif. ( F.32) bila gejala skizofrenia masih jelas dan menonjol, diagnosis harus tetap salah satu dari subtipe skizofrenia yang sesuai ( F.20.0 – F.20.3) (2,6)
Episode Depresif
  • Gejala utama :
-       Afek depresif
-       Kehilangan minat dan kegembiraan
-       Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah ( rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja ) dan menurunnya aktifitas. (5)
  • Gejala lainnya
-       Konsentrasi dan perhatian berkurang
-       Harga diri dan kepercayaan diri berkurang
-       Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna
-       Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis
-       Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri
-       Tidur terganggu
-       Nafsu makan berkurang (5)
Untuk episode depresif dari ketiga tingkat keparahan tersebut diperlukan masa sekurang-kurangnya 2 minggu untuk penegakan diagnosis, akan tetapi periode lebih pendek dapat dibenarkan jika gejala luar biasa beratnya dan berlangsung cepat. (9)
Individu yang terkena depresi pada umumnya menunjukan gejala psikis, gejala fisik dan sosial yang khas, seperti murung, sedih berkepanjangan, sensitif, mudah marah dan tersinggung, hilang semangat kerja, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya konsentrasi, dan menurunnya daya tahan. (8)
a. Gejala Fisik
Gejala depresi yang kelihatan ini mempunyai rentanan dan variasi yang luas sesuai dengan berat ringannya depresi yang dialami, namun secara garis besar ada beberapa gejala fisik umum yang relatif mudah dideteksi. Gejala itu seperti ;
1).  Sulit tidur, terlalu banyak atau terlalu sedikit.
2). Pada umumnya, orang yang mengalami depresi menunjukan perilaku yang pasif, menyukai kegiatan yang tidak melibatkan orang lain seperti nonton tv, makan.
3). Orang yang terkena depresi akan sulit memfokuskan perhatian atau pikiran pada suatu hal atau pekerjaan. Sehingga mereka juga sulit memfokuskan energy pada hal-hal yang prioritas. Kebanyakan yang dilakukan justru adalah hal-hal yang tidak efisien dan tidak berguna seperti misalnya melamun, mengemil dan merokok terus-menerus sering menelpon yang tidak perlu. Orang yang terkena depresi akan terlihat dari metode kerjanya yang kurang terstruktur, sistematikanya jadi kacau, kerjanya jadi lamban.
4). Orang yang terkena depresi akan kehilangan sebagian atau seluruh motivasi kerjanya. Sebabnya, ia tidak lagi bisa menikmati dan merasakan kepuasan atas apa yang dilakukannya. Ia sudah kehilangan minat dan motivasi untuk melakukan kegiatannya seperti semula. Oleh karena itu keharusan untuk tetap beraktivitas membuatnya semakin kehilangan energy karena energy yang ada sudah banyak terpakai untuk mempertahankan diri agar dapat berfungsi seperti biasanya. Mereka mudah sekali lelah, padahal belum melakukan aktifitas yang berarti.
5). Depresi itu sendiri adalah perasaan negatif. Jika seorang menyimpan perasaan negatif maka jelas akan membuat letih karena membebani pikiran dan perasaan karena harus memikirkannya, memikulnya dimana saja, kapan saja, suka atau tidak suka.
           b. Gejala Psikis
1). Kehilangan rasa percaya diri, penyebabnya orang yang mengalami depresi cenderung memandang segala sesuatu dari sisi negatif, termasuk menilai diri sendiri. Mereka senang sekali membandingkan dirinya dan orang lain. Orang dinilai lebih sukses, pandai, beruntung, kaya, lebih berpendidikan, lebih berpengalaman, lebih diperhatikan oleh atasan dan pikiran negatif lainnya.
2). Sensitif, Orang yang mengalami depresi senang sekali mengkaitkan segala sesuatunya dengan perasaan dirinya sendiri, perasaannya sensitive sekali sehingga sering peristiwa yang netral jadi dipandang dari sudut pandang yang berbeda oleh mereka bahkan disalahkan, akibatnya mereka mudah tersinggung, mudah marah, perasa, curiga akan muncul.
3).  Merasa diri tidak berguna, perasaan ini akan muncul karena mereka menjadi orang yang gagal terutama dalam bidang atau lingkungan yang seharusnya mereka kuasai.
4). Perasaan bersalah, perasaan bersalah terkadang timbul dalam pemikiran orang yang mengalami depresi, mereka memandang suatu kejadian yang menimpa dirinya sebagai suatu hukuman atau akibat dari kegagalan mereka melaksanakan tanggung jawab yang seharusnya dikerjakan. Banyak pula yang merasa dirinya menjadi beban bagi orang lain dan menyalahkan diri mereka atas situasi tersebut. 
5). Perasaan terbebani, Banyak orang menyalahkan orang lain atas kesusahan yang dialami. Mereka merasakan beban yang terlalu berat karena merasa dibebani tangung jawab yang berat
            c. Gejala Sosial
Masalah depresi yang berawal dari diri sendiri pada akhirnya mempengaruhi lingkungan dan pekerjaan ( atau aktivitas lainnya ), Lingkungan tentu akan bereaksi terhadap perilaku orang yang depresi tersebut yang pada umumnya negatif, mudah marah, tersinggung, menyendiri, sensitif, mudah letih, mudah sakit. Masalah sosial yang terjadi biasanya berbentuk konflik namun masalah lainnya seperti minder, malu, cemas, jika berada diantara kelompok dan merasa tidak nyaman untuk berkomunikasi secara normal.
d.     Instrumen Pengukuran Tingkat Depresi
Dalam mengukur tingkat depresi menggunakan Hamilton Rating Scale for Depression ( HRDS) Yaitu skala depresi yang terdiri dari 24 item yaitu item berkisar antara 0 sampai 4, atu 0 sampai 2 dengan total score 0 sampai 76. Dokter mengevaluasi jawaban pasien terhadap pertanyaan tentang rasa bersalah, pikiran bunuh diri, kebiasaan tidur, dan gejala lain depresi dan penilaian diperoleh dari wawancara klinik. Hasil penilaiannya dapat menjadi sebagai berikut :
a.     Tidak dijumpai depresi skor HRSD 0 -6
b.     Depresi ringan skor HRSD 7- 17
c.     Depresi sedang skor HRSD 18 – 24
d.     Depresi berat skor HRSD > 24
HRSD atau Hamilton Rating scale for depression merupakan salah satu dari berbagai instrument dalam menilai depresi. Penelitian membandingkan HRSD dengan skor depresi lain didapatkan konsistensi. Reliabilitas antara pemeriksa pada umumnya cukup tinggi. Demikian juga realibitas oleh satu pemeriksa yang dilakukan pada waktu yang berbeda.

4. Penatalaksanaan
1.     Terapi Biologis/Medis
Antipsikotik dibedakan atas:
1. Antipsikotik tipikal (antipsikotik generasi pertama)
       Klorpromazin
       Flufenazin
       Tioridazin
       Haloperidol
2. Antipsikotik atipikal (antipsikotik generasi kedua)
       Klozapin
       Olanzapin      
       Risperidon
       Quetapin
       Aripiprazol

            Walaupun medikasi antipsikotik adalah inti dari pengobatan skizofrenia, penelitian telah menemukan bahwa intervensi psikososial dapat memperkuat perbaikan klinis. Sebagian besar pasien skizofrenia mendapatkan manfaat dari pemakaian kombinasi pengobatan antipsikotik dan psikososial. (1)
Terapi Biologik
            Pemakaian medikasi antipsikotik pada skizofrenia harus mengikuti prinsip-prinsip utama, yaitu :
1.     Klinis harus secara cermat menentukan gejala sasaran yang akan diobati
2.     Suatu antipsikotik yang telah bekerja dengan baik di masa lalu pada pasien harus digunakan lagi
3.     Lama minimal pengobatan antipsikotik adalah 4-6 minggu pada dosis yang adekuat
4.     Pasien harus dipertahankan pada dosis efektif yang serendah mungkin yang diperlukan untuk mencapai pengendalian gejala selama episode psikotik.(1)

Skizofrenia diobati dengan antipsikotika. Obat ini dibagi dalam dua kelompok yaitu :
1.     Dopamine reseptor antagonis (DRA) atau antipsikotika generasi I (APG-I) atau juga antipsikotika konvensional / tipikal yang berguna terutama untuk mengontrol gejala-gejala positif sedangkan gejala negatif hampir tidak bermanfaat. (1,2)
2.     Serotonine-dopamine antagonist (SDA) atau antipsikotika generasi II atau juga antipsikotika baru / atipikal bermanfaat baik untuk gejala positif maupun negatif.(1,2)
Antipsikotika Generasi Pertama /  Tipikal
  1. Fenotiazine
                  Semua fenotiazine mempunyai struktur yang sama yaitu tiga cincin. Subtitusi pada rantai alifatik, seperti khlopromazin, menyebabkan turunnya potensi AP. Obat ini cendrung menyebabkan sedasi, hipotensi, dan efek antikolinergik. Mensubtitusi piperidine pada posisi sepuluh dapat menghasilkan kelompok AP seperti tioridazine, obat ini mempunyai potensi dan profil efek samping yang sama dengan fenotiazine alifatik. Flufenazin dan trifluoperaazine merupakan AP dengan kelompok piperazin yang disubtitusi pada posisi sepuluh. (1)
  1. Butirofenon
          Haloperidol merupakan AP yang termasuk kelompok ini. Haloperidol dan butirofenon lain bersifat D2 antagonis yang sangat poten. Efek terhadap sistem otonom dan efek antikolinergiknya sangat minimal. Haloperidol merupakan piperidine yang paling sering digunakan.(2)
  1. Difenilbutil Piperidine
         Difenilbutil piperidine sama strukturnya dengan butirofenon. Pimozide, satu-satunya difenilbutil piperidine yang tersedia.(1)
Antipsikotika Generasi Kedua /  Atipikal
  1. Clozapine
            Clozapine merupakan antipsikotika pertama yang efek samping ektraprimidalnya dapat diabaikan. Dibandingkan dengan obat-obat generasi pertama, semua APG-II mempunyai rasio blokade serotonin (5 hidrositriptamin) (5-HT) tipe 2 (5-HT2) terhadap reseptor dopamin tipe 2 (D2) lebih tinggi. Ia lebih banyak bekerja pada sistem dopamin mesolimbik daripada striatum.(1)
  1. Risperidone
            Risperidone termasuk kedalam kelompok benzisoxazole. Risperidone dengan nama dagang Risperidal tersedia dalam bentuk tablet yaitu 1 mg, 2 mg, dan 3 mg. Dosis yang biasa digunakan antara 4-8 mg. Risperidone juga tersedia dalam bentuk depo ( long acting ) yang dapat digunakan setiap dua minggu. Obat ini disuntikkan secara IM dan tidak menimbulkan rasa sakit di tempat suntikan karena ia merupakan suspensi dengan pelarut air. Risperidone merupakan antagonis kuat baik terhadap serotonin dan reseptor D2. Resperidone juga mempuyai afinitas kuat terhadap α2 tetapi afinitas terhadap β-reseptor dan muskarinik rendah.(1)
  1. Olanzapine
            Merupakan obat yang aman dan efektif untuk mengobati skizofrenia baik simptom positif maupun negatif. Efek sampingnya sangat ringan.(1)
  1. Quetiapine
            Quetiapine merupakan dibenzothiazepine dengan potensi memblok 5-Ht2 lebih kuat daripada D2.(1)

Terapi pemakaian anti depresan dalam pengobatan gangguan depresif pasca psikotik dari skizofrenia telah dilaporkan dalam beberapa penelitian, kira-kira setengah dari beberapa penelitian telah melaporkan efek yang positif dan setengah penelitian tidak melaporkan adanya efek hilangnya gejala depresif. Medikasi antidepresan kemungkinan menghilangkan gejala depresif pada beberapa pasien tetapi hasil campuran penelitian mencerminkan ketidakmampuan sekarang ini untuk membedakan pasien mana yang akan berespons dan pasien mana yang tidak berespons terhadap anti depresan. (7,9)
Terapi Psikososial
Selain terapi obat, psikoterapi keluarga adalah aspek penting dalam pengobatan. Pada umumnya, tujuan psikoterapi adalah untuk membangun hubungan kolaborasi antara pasien, keluarga, dan dokter. Melalui psikoterapi ini, maka pasien dibantu untuk  melakukan sosialisasi dengan lingkunganya. (5)
1.     Terapi Perilaku
            Rencana pengobatan untuk skizofrenia harus ditujukan pada kemampuan dan kekurangan pasien. Teknik perilaku menggunakan hadiah ekonomi dan latihan keterampilan sosial untuk meningkatkan kemampuan sosial, kemampuan memenuhi diri sendiri, latihan praktis, dan komunikasi interpersonal. (1)

2.     Terapi Berorientasi - Keluarga
Berbagai terapi berorientasi keluarga cukup berguna dalam pengobatan skizofrenia. Keluarga dan teman merupakan pihak yang juga sangat berperan membantu pasien dalam bersosialisasi. Dalam kasus skizofrenia akut, pasien harus mendapat terapi khusus dari rumah sakit. Kalau perlu, ia harus tinggal di rumah sakit tersebut untuk beberapa lama sehingga dokter dapat melakukan kontrol dengan teratur dan memastikan keamanan penderita. (1)
            Tapi sebenarnya, yang paling penting adalah dukungan dari keluarga penderita, karena jika dukungan ini tidak diperoleh, bukan tidak mungkin para penderita mengalami halusinasi kembali. Karena itu, agar halusinasi tidak muncul lagi, maka penderita harus terus menerus diajak berkomunikasi dengan realitas. Namun, keluarga juga tidak boleh berlebih-lebihan dalam memperlakukan penderita skizofrenia. Terapi keluarga selanjutnya dapat diarahkan kepada berbagai macam penerapan strategi menurunkan stress dan mengatasi masalah dan pelibatan kembali pasien ke dalam aktifitas.(1)

3.     Terapi Kelompok
            Terapi kelompok bagi skizofrenia biasanya memusatkan pada rencana, masalah dan hubungan dalam kehidupan nyata. Kelompok mugkin terorientasi secara perilaku, terorientasi secara psikodinamika atau tilikan atau suportif. Terapi kelompo efektif dalam menurunkan isolasi sosial, meningkatkan rasa persatuan, dan meningkatkan tes realitas bagi pasien dengan skizofrenia.(1)

5. Prognosis          
Prognosa Baik
-       Onset lambat
-       Faktor pencetus jelas
-       Onset akut
-       Riwayat sosial,  seksual dan pekerjaan pramorbid yang baik. (2)
-       Gejala gangguan mood (terutama gangguan depresif)
-       Menikah
-       Riwayat Keluarga gangguan mood
-       Pendukung yang baik, gejala positif (2)

Prognosa Buruk
-       Onset Muda
-       Faktor pencetus tidak jelas
-       Onset tidak jelas
-       Riwayat social,seksual dan pekerjaan pramorbid yang buruk.
-       Prilaku menarik diri,autistik
-       Tidak menikah,bercerai artau janda/duda (2)
-       Riwayat Keluarga skizofrenia
-       Pendukung yang buruk
-       Gejala negatif
-       Tanda dan gejala neurologis
-       Tidak ada remisi dalam 3 tahun,banyak relaps (2)

                
BAB III
KESIMPULAN

Skizofrenia adalah gangguan jiwa serius yang bersifat psikosis sehingga penderita kehilangan kontak dengan kenyataan dan mempengaruhi berbagai fungsi individu, seperti afeksi dan kognitif. Penderita Skizofrenia juga dapat digolongkan dalam beberapa jenis berdasarkan gejala khas yang paling dominan.   
Tiap jenis selalu ditandai dengan gejala positif dan negatif yang berbeda porsinya. Gejala positif adalah penambahan dari fungsi normal, contohnya halusinasi yaitu persepsi panca indera yang tidak sesuai kenyataan. Sedangkan gejala negatif berarti pengurangan dari fungsi normal seperti kehilangan minat dan menarik diri dari lingkungan sosial. 
Hingga saat ini penyebab utama Skizofrenia masih menjadi perdebatan di kalangan ahli psikiatri maupun psikologi. Karna itu untuk dapat memahaminya diperlukan multiperspekif yaitu dari sisi biologis, psikologis, sosial dan spiritual.  



DAFTAR PUSTAKA

1.     Kaplan H.I, Sadok B.J. Sinopsis Psikiatri, Edisi ketujuh, Jilid I, Binarupa Aksara, Jakarta, 1997 : 777-83

2.     Andreasen, N,C., Carpenter, M.T., Kane, J.M.,Lasser, R.A.,Marder, S.R., Weinberger, D.R. 2005. Remission in Schizophrenia: Proposed Criteria and Rationale for Consensus. Am J Psychiatry. 162:441–449.

3.     Durand, V. Mark, & Barlow, David H. (2006). Psikologi Abnormal. Edisi Keempat. Jilid Pertama. Jogjakarta : Pustaka Pelajar.
4.  Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa (PPDGJ III), Direktorat Kesehatan Jiwa Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1993.

5.     Jenkins, J.H.,Garcia, J.I.R., Chang, C.L., Young, J.S., Lopez, S.R. 2006. FamilySupport Predicts Psychiatric Medication Usage Among Mexican AmericanIndividuals with Schizophrenia. Social Psyciatry and Psychiatric Epidemology,41. 624-631.

6.     Nevid, Jeffrey S., Rathus, Spencer A., & Greene, Beverly. (2005). Psikologi Abnormal. Edisi Kelima. Jilid Pertama. Jakarta : Penerbit Erlangga.

7.   Bojana Avguštin, DEPRESSION IN SCHIZOPHRENIA – LITERATURE OVERVIEW,             University Psychiatric Hospital Ljubljana, Ljubljana, Slovenia, 2009. Page : 93-97

8.  Pablo Jeczmien, Post-Psychotic Depression in Schizophrenia, Shalvata Mental Health       Center, Hod Hasharon and Geha Mental Health Center, Petah Tikva  Faculty of    Medicine, Tel Aviv University, Israel. 2008. Page : 1-4

9.   Murali, Kumar, Depression in Scizophrenia, Characterisation of depressionin patients      with schizophrenia. Indian J Med Res 2008; 127 : 544-50.
10. First ,Michael. CLINICAL GUIDE TO THE DIAGNOSIS AND TREATMENT OF      MENTAL DISORDERS, Department of Psychiatry and Behavioral Sciences University    of Louisville School of Medicine Louisville, USA. 2006. Page 219-222.






Komentar

Postingan populer dari blog ini