Langsung ke konten utama

Refarat Interna : Osteoartritis #CatatanDokterMuda


BAB I
PENDAHULUAN

            Osteoartritis (OA) merupakan penyakit sendi degeneratif yang berkaitan dengan kerusakan kartilago sendi. Vertebra, panggul, lutut dan pergelangan kaki paling sering terkena OA. Prevalensi OA lutut radiologis di Indonesia cukup tinggi, yaitu mencapai 15, 5 % pada pria, dan 12,7 % pada wanita. Pasien OA Biasanya mengeluh nyeri pada waktu melakukan aktivitas atau jika ada pembebanan sendi yang terkena. Pada derajat yang lebih berat nyeri dapat dirasakan terus - menerus sehingga sangat menggangu mobilitas pasien. Karena prevalensi yang cukup tinggi dan sifatnya yang kronik - progresif, OA mempunyai dampak sosio - ekonomik yang besar, baik di negara maju maupun di negara berkembang. Diperkirakan 1 sampai 2 juta orang lanjut usia di Indonesia cacat karena OA. Pada abad mendatang tantangan terhadap dampak OA akan lebih besar karena semakin banyaknya populasi yang berumur tua. (1)
            Osteoartritis adalah bentuk artritis yang paling umum dengan jumlah pasien nya sedikit melampaui separuh jumlah pasien artritis. Gangguan ini sedikit lebih banyak pada perempuan daripada laki-laki dan terutama ditemukan pada orang-orang yang berusia 45 tahun. Penyakit ini pernah dianggap sebagai sesuatu proses yang normal, sebab insidens bertambah dengan meningkatnya usia. Osteoartritis dahulu diberi nama artritis yang artinya rusak karena dipakai karena sendi” Namun, menjadi Aus dengan bertambahnya usia. Tetapi temuan-temuan yang lebih baru dalam bidang biokimia dan biomekanik telah menyangkal teori ini. (2)

            Faktor-faktor genetik memainkan peranan pada beberapa bentuk osteoarthritis. Perkembangan Osteoartritis, sendi-sendi interfalang distal tangan ( Nodus Hiberden) dipengaruhi oleh jenis kelamin dan lebih dominan pada perempuan. Nodus Hiberdens 10 kali lebih sering ditemukan pada perempuan dibandingkan laki-laki. Hormon seks dan faktor-faktor hormonal lain juga kelihatannya berkaitan dengan perkembangan osteoarthritis. Hubungan antara estrogen dan pembentukan tulang dan prevalensi osteoarthritis pada perempuan menunjukkan bahwa hormon memainkan peranan aktif dalam perkembangan dan progresivitas penyakit ini. (2)

            Terapi pengendalian OA pada umumnya simptomatik misalnya dengan pengendalian faktor – faktor resiko, latihan, intervensi fisioterapi dan terapi farmakologis pada OA fase lanjut sering diperlukan pembedahan. Untuk mengurangi keluhan nyeri pada OA, biasanya digunakan analgetika atau obat anti inflamasi non steroid ( OAINS ). Karena keluhan nyeri pada OA yang kronik dan progresif, penggunaan OAINS biasanya berlangsung lama, sehingga tidak jarang menimbulkan masalah. Di Amerika penggunaan OAINS menyebabkan  sekitar 100.000 pasien tukak lambung dengan 10.000 – 15.000 kematian setiap tahun. Atas dasar masalah – masalah tersebut di atas para Ahli berusaha mencari terapi farmakologis yang dapat memperlambat progresifitas kerusakan kartilago sendi, bahkan kalau mungkin mencegah timbulnya kerusakan karilago. Beberapa obat telah dan sedang dilakukan uji pada binatang maupun uji klinis pada manusia. Obat –obatan baru tersebut disebut sebagai Chondroprotective agents atau disease modifying osteoarthritis Drugs. ( DMOADs). (1)


BAB II
PEMBAHASAN

A.    DEFINISI

Sebagai bentuk artritis yang umum ditemukan, osteoarthritis ( sering disebut pula dengan istilah penyakit degeneratif sendi ) merupakan keadaan kronis yang menyebabkan degenerasi kartilago tulang dan pembentukan tulang baru sebagai reaksi atas degenerasi tersebut di daerah tepi serta daerah subkondrium sendi. (3)


B.    EPIDEMIOLOGI

Di antara lebih dari 100 jenis yang berbeda dari arthritis, osteoarthritis adalah yang paling umum, yang mempengaruhi lebih dari 20 juta orang di Amerika Serikat. Osteoarthritis lebih sering terjadi saat kita bertambah usia. Sebelum usia 45 tahun, osteoartritis lebih sering terjadi pada laki-laki. Setelah 55 tahun, osteoartritis lebih sering terjadi pada wanita. Di Amerika Serikat, semua ras muncul sama banyak. Sebuah kejadian osteoartritis ada yang lebih tinggi pada populasi Jepang, sementara orang kulit hitam Afrika Selatan, India Timur, dan Selatan Cina memiliki tingkat yang lebih rendah. Data Riset Kesehatan Dasar ( Riskesdas ) tahun 2013 hasil dari wawancara pada usia ≥ 15 tahun rata-rata prevalensi penyakit sendi/rematik sebesar 24,7%. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan provinsi dengan prevalensi OA tertinggi yaitu sekitar 33,1% dan provinsi dangan prevalensi terendah adalah Riau yaitu sekitar 9% sedangkan di Jawa Timur angka prevalensinya cukup tinggi yaitu sekitar 27% (Riskesdas, 2013). Sekitar 32,99% lansia di Indonesia mengeluhkan penyakit degeneratif seperti asam urat, rematik/radang sendi, darah tinggi, darah rendah, dan diabetes  (Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI, 2013). 56, 7% pasien di poliklinik rheumatologi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta didiagnosis menderita Osteoartritis. (4)

Gejala OA lutut lebih tinggi terjadi pada wanita dibanding pada laki-laki yaitu 13% pada wanita dan 10% pada laki-laki. Murphy, et.al mengestimasikan risiko perkembangan OA lutut sekitar 40% pada laki-laki dan 47% pada wanita. Oliveria melaporkan rata-rata insiden OA panggul, lutut dan tangan sekitar 88, 240, 100/100.000 disetiap tahunnya. Insiden tersebut akan meningkat pada usia 50 tahun keatas dan menurun pada usia 70 tahun. (4)
C.   ETIOPATOGENESIS
Defek primer pada Osteoartritis idiopatik maupun osteoarthritis sekunder adalah hilangnya kartilago sendi akibat perubahan fungsional kondrosit ( Sel – Sel yang bertanggung jawab atas pembentukan proteoglikan yaitu Glikoprotein yang bekerja sebagai bahan seperti semen dalam tulang rawab dan kolagen ). (3) Osteoartritis idiopatik yang merupakan bagian normal dalam proses penuaan terjadi karena banyak faktor. Faktor – faktor tersebut meliputi ;
1.            Faktor metabolik ( Gangguan endokrin seperti hiperparatiroidisme ) dan faktor genetik ( penurunan sintesis kolagen )
2.        Faktor kimiawi ( obat –Obat yang menstimulasi enzim yang mencerna kolagen dalam memberan synovial.
3.            Faktor mekanis ( tekanan berulang pada sendi ). (3)

Osteoartritis sekunder biasanya mengikuti suatu kejadian sebagai predisposisi yang dapat didentifikasi dan menimbulkan perubahan degeneratif seperti ;
1.     Trauma ( merupakan penyebab paling sering )
2.     Deformitas kongenital
3.     Obesitas (3)

Osteoartritis terjadi pada sendi-sendi synovial. Kartilago sendi mengalami Degenerasi dan sebagai reaksi terjadi pembentukan tulang yang baru di daerah tepi serta daerah subkondrium sendi. Degenerasi terjadi karena kerusakan pada kondrosit. Kartilago tersebut menjadi lunak seiring pertambahan usia dan terjadi penyempitan rongga sendi. Cedera mekanis menyebabkan erosi kartilago sendi sehingga tulang yang ada dibawahnya tidak lagi terlindungi.  Keadaan ini menimbulkan sclerosis atau penebalan dan pengerasan tulang yang berada di bawah kartilago. (3)
Serpihan kartilago akan mengiritasi lapisan synovial yang kemudian menjadi jaringan fibrosis dan  membatasi gerakan sendi. Cairan synovial dapat terdorong dan merembes keluar untuk memasuki defek pada tulang sehingga terbentuk kista. Tulang baru yang dinamakan osteofit ( Bone Spur ) akan terbentuk pada bagian tepi sendi ketika terjadi erosi kartilago sehingga timbul perubahan kontur tulang nyata dan pembesaran tulang. (3)
Mekanisme pertahanan sendi diperankan oleh pelindung sendi yaitu : Kapsula dan ligamen sendi, otot-otot, saraf sensori aferen dan tulang di dasarnya . Kapsula dan ligamen-ligamen sendi memberikan batasan pada rentang gerak (Range of motion) sendi. Cairan sendi (sinovial) mengurangi gesekan antar kartilago pada permukaan sendi sehingga mencegah terjadinya keletihan kartilago akibat gesekan. Protein yang disebut dengan lubricin merupakan protein pada cairan sendi yang berfungsi sebagai pelumas. Protein ini akan berhenti disekresikan apabila terjadi cedera dan peradangan pada sendi. (4)
Ligamen bersama dengan kulit dan tendon, mengandung suatu mekanoreseptor yang tersebar di sepanjang rentang gerak sendi. Umpan balik yang dikirimkannya memungkinkan otot dan tendon mampu untuk memberikan tegangan yang cukup pada titik-titik tertentu ketika sendi bergerak. Otot-otot dan tendon yang menghubungkan sendi adalah inti dari pelindung sendi. Kontraksi otot yang terjadi ketika pergerakan sendi memberikan tenaga dan akselerasi yang cukup pada anggota gerak untuk menyelesaikan tugasnya. Kontraksi otot tersebut turut meringankan stres yang terjadi pada sendi dengan cara melakukan deselerasi sebelum terjadi tumbukan (impact). Tumbukan yang diterima akan didistribusikan ke seluruh permukaan sendi sehingga meringankan dampak yang diterima. Tulang di balik kartilago memiliki fungsi untuk menyerap goncangan yang diterima. (4)
Kartilago berfungsi sebagai pelindung sendi. Kartilago dilumasi oleh cairan sendi sehingga mampu menghilangkan gesekan antar tulang yang terjadi ketika bergerak. Kekakuan kartilago yang dapat dimampatkan berfungsi sebagai penyerap tumbukan yang diterima sendi. Perubahan pada sendi sebelum timbulnya OA dapat terlihat pada kartilago sehingga penting untuk mengetahui lebih lanjut tentang kartilago. Terdapat dua jenis makromolekul utama pada kartilago, yaitu Kolagen tipe dua dan Aggrekan. Kolagen tipe dua terjalin dengan ketat, membatasi molekul – molekul aggrekan di antara jalinan-jalinan kolagen. Aggrekan adalah molekul proteoglikan yang berikatan dengan asam hialuronat dan memberikan kepadatan pada kartilago. (4)
Kondrosit, sel yang terdapat di jaringan avaskular, mensintesis seluruha elemen yang terdapat pada matriks kartilago. Kondrosit menghasilkan enzim pemecah matriks, sitokin { Interleukin-1 (IL-1), Tumor Necrosis Factor (TNF)}, dan faktor pertumbuhan. Umpan balik yang diberikan enzim tersebut akan merangsang kondrosit untuk melakukan sintesis dan membentuk molekul-molekul matriks yang baru. Pembentukan dan pemecahan ini dijaga keseimbangannya oleh sitokin faktor pertumbuhan dan faktor lingkungan. Kondrosit mensintesis metaloproteinase matriks (MPM) untuk memecah kolagen tipe dua dan aggrekan. MPM memiliki tempat kerja di matriks yang dikelilingi oleh kondrosit. Namun, pada fase awal OA, aktivitas serta efek dari MPM menyebar hingga ke bagian permukaan (superficial) dari kartilago. (4)
Stimulasi dari sitokin terhadap cedera matriks adalah menstimulasi pergantian matriks, namun stimulaso IL-1 yang berlebih malah memicu proses degradasi matriks. TNF menginduksi kondrosit untuk mensintesis prostaglandin (PG), oksida nitrit (NO), dan protein lainnya yang memiliki efek terhadap sintesis dan degradasi matriks. TNF yang berlebihan mempercepat proses pembentukan tersebut. NO yang dihasilkan akan menghambat sintesis aggrekan dan meningkatkan proses pemecahan protein pada jaringan. Hal ini berlangsung pada proses awal timbulnya OA. (4)
Kartilago memiliki metabolisme yang lamban, dengan pergantian matriks yang lambat dan keseimbangan yang teratur antara sintesis dengan degradasi. Namun, pada fase awal perkembangan OA kartilago sendi memiliki metabolisme yang sangat aktif. Pada proses timbulnya OA, kondrosit yang terstimulasi akan melepaskan aggrekan dan kolagen tipe dua yang tidak adekuat ke kartilago dan cairan sendi. Aggrekan pada kartilago akan sering habis serta jalinan-jalinan kolagen akan mudah mengendur. Kegagalan dari mekanisme pertahanan oleh komponen pertahanan sendi akan meningkatkan kemungkinan timbulnya OA pada sendi. (4) 
D.   GEJALA KLINIS DAN DIAGNOSIS

Gejala yang memburuk pada pasien dengan postur tubuh buruk ; Obese dan mendapat tekanan dalam pekerjaan ( Okupasi ) meliputi ;
1.     Nyeri sendi yang bersifat pegal dan dalam akibat degenerasi kertilago, inflamasi dan tekanan tulang ; nyeri ini terutama timbul sesudah melakukan aktifitas fisik, olahraga atau pekerjaan yang bersifat mengangkat beban weight bearing ( gejala yang paling sering terdapat biasanya akan hilang setelah pasien beristirahat )
2.   Rasa kaku pada pagi hari dan sesudah melakukan latihan ( yang akan  mereda setelah istirahat )
3.     Krepitasi atau bunyi “berderik” pada sendi selama melakukan gerakan ; bunyi ini timbul karena kerusakan kartilago.
4.   Nodus Heberden ( Pembesaran tulang pada ujung distal sendi interfalangeal ) akibat inflamasi berulang.
5.     Perubahan cara berjalan akibat kontraktur yang disebabkan oleh kompensasi – berlebihan otot yang menyangga sendi tersebut.
6.     Penurunan kisaran gerak akibat rasa  nyeri dan kaku
7.   Pembesaran sendi akibat tekanan pada tulang dan gangguan pertumbuhan tulang. Nyeri kepala setempat ( yang dapat merupakan akibat langsung arthritis vertebra ). (3)

Temuan yang membantu penegakan diagnosis osteoarthritis meliputi :
1.  Keadaan tidak ada gejala sistemik ( menyingkirkan kemungkinan gangguan peradangan sendi )
2.     Artroskopi yang memperlihatkan bone spurs dan penyempitan rongga sendi
3.     Peningkatan laju endap darah ( pada sinovitis yang luas ). (3)

E.    PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang
untuk menentukan diagnostik OA selain melalui pemeriksaan fisik juga diperlukan pemeriksaan penunjang seperti radiologis dan pemeriksaan laboratorium. Foto polos dapat digunakan untuk membantu penegakan diagnosis OA walaupun sensivitasnya rendah terutama pada OA tahap awal. USG juga menjadi pilihan untuk menegakkan diagnosis OA karena selain murah, mudah diakses serta lebih aman dibanding sinar - X, CT-scan atau MRI. (5)
1. Radiologis
Foto Rontgen sendi yang terkena akan membantu memastikan Diagnosis namun pada stadium awal foto tersebut masih tampak normal. Pembuatan foto sendi memerlukan berbagai sudut pandang ( Foto dengan lebih satu posisi ) dan secara khas foto tersebut akan memperlihatkan :
-       Penyempitan rongga atau bagian tepi sendi
-       Endapan tulang mirip kista dalam rongga serta tepi sendi dan sclerosis rongga subkondrium
-       Deformitas tulang akibat degenerasi atau kerusakan sendi
-       Pertumbuhan tulang di daerah yang menyangga beban tubuh.
-           fusi atau penyatuan sendi. (5)
2.  Laboratorium
Hasil pemeriksaan laboratorium pada OA biasanya tidak banyak berguna. Pemeriksaan darah tepi masih dalam batas – batas normal. Pemeriksaan imunologi masih dalam batas – batas normal. Pada OA yang disertai peradangan sendi dapat dijumpai peningkatan ringan sel peradangan ( < 8000 / m ) dan peningkatan nilai protein. (5)

F.    PENATALAKSANAAN
Terapi bertujuan untuk mengurang irasa nyeri, mempertahankan mobilitas dan mencegah disabilitas. Pengurangan beban kerja sendi lewat perbaikan postur tubuh, pengurangan malaligment, exercise dan penurunan berat badan kerapkali menjadi lengkah pertama dalam penanganan OA yang ringan. Meskipun banyak pasien menghindari exercise karena rasa khawatirnya akan nyeri namun aktifitas fisik dan olahraga yang sedang hingga cukup berat tampaknya tidak membuat rasa nyeri tersebut timbul kembali. Obat – obat NSAID dan asetaminofen merupakan obat pereda nyeri yang bersifat palliative tetapi tidak mencegah progresivitas penyakit. (3) (10)
Terapi Non – Farmakologis
1.     Pengetahuan
Maksud dari penerangan adalah agar pasien mengetahui sedikit seluk – beluk tentang penyakitnya bagaimana menjaganya agar penyakitnya tidak bertambah parah serta persendiannya tetap dapat dipakai.
2.     Terapi Fisik dan Rehabilitasi
Terapi ini untuk melatih pasien agar persendiannya tetap dapat dipakai dan melatih pasien untuk melindungi sendi yang sakit.
3.     Penurunan Berat Badan
Berat badan yang berlebihan merupakan faktor yang akan memperberat penyakit OA. Oleh karenanya berat badan harus selalu dijaga agar tidak berlebihan. Apabila berat badan berlebihan, maka harus diusahakan penurunan berat badan bila mungkin mendekati berat badan ideal. (3) (10)
Terapi Farmakologis
1.     Obat Anti Inflamasi Non Steroid ( OAINS )
Dalam hal seperti ini kita pikirkan untuk pemberian OAINS oleh karena obat golongan ini di samping mempunyai efek analgetik, juga mempunyai efek anti – inflamasi. Oleh karena pasien OA kebanyakan usia lanjut maka pemberian obat –obatan jenis ini harus sangat berhati –hati. Jadi sebaiknya memilih obat- obatan dengan efek samping yang minimal dan dengan cara pemakaian sederhana. Dan pengawasan terhadap segala kemungkinan harus dilakukan.
2.     Chondroprotective Agent
Yang dimaksud dengan chondroprotective agent adalah obat – obatan yang menjaga atau merangsang perbaikan ( tulang rawan ) sendi pada pasien OA. Sampai saat ini yang termasuk dalam golongan obat ini adalah ; Tetrasiklin, Asam Hialuronat, Kondrotin sulfat, Glikosaminoglikan, Vitamin C, Superoxide dismutase dan sebagainya.
Tetrasiklin dan derivatnya mempunyai kemampuan untuk menghambat kerja enzim MMP dengan cara menghambatnya. Salah satu contoh adalah doxcycycline, sayangnya obat ini baru dipakai pada hewan dan belum dipakai pada manusia.
Asam hialuronat disebut juga sebagai Viscosupplement oleh karena salah satu manfaat obat ini adalah dapat memperbaiki visikositas cairan synovial, obat ini diberikan secara intra – articular. Asam hialuronat ternyata memegang peranan penting dalam pembentukan matriks tulang rawan melalui agregasi dengan proteoglikan. Glikosaminoglikan dapat menghambat sejumlah enzim yang berperan dalam proses degradasi tulang rawan antara lain ; Hialuronidase, protease, elastase dan cathepsin B1 in Vitro dan juga merangsang sintesis proteoglikan dan asam hialuronat pada kultur tulang rawan sendi manusia. (1) (3) (10)
Kondroitin sulfat merupakan komponen penting pada jaringan kelompok vertebra dan terutama terdapat pada matriks ekstraseluler sekeliling sel. Salah satu jaringan yang mengandung Kondroitin sulfat adalah tulang rawan sendi dan zat ini merupakan bagian dari proteoglikan. Menurut Hardingham ( 1998 ) tulang rawan sendi terdiri dari 2 % dan 98 % matriks ekstraseluler yang terdiri dari kolagen dan proteoglikan. Matriks ini membentuk satu struktur yang utuh sehingga mampu menerima beban tubuh. Pada penyakit sendi degenerative seperti OA terjadi kerusakan tulang rawan sendi dan salah satu penyebabnya adalah hilangnya atau berkurangnya proteoglikan pada tulang rawan tersebut. Pada beberapa penelitian menemukan efektifitas kondroitin sulfat pada pasien OA mungkin melalui 3 mekanisme utama yaitu ; 1). Anti Inflamasi 2). Efek metabolik terhadap sintesis hialuronat dan proteglikan. 3). Anti – Degeneratif melalui hambatan enzim proteolitik dan menghambat efek oksigen reaktif. Vitamin C dalam penelitian ternyata dapat menghambat aktivitas enzim lisozim. Pada pengamatan ternyata vitamin C mempunyai manfaat pada terapi OA. (1)(3)(10)
Superoxide Dismutase dapat di jumpai pada setiap sel mamalia dan mempunyai kemampuan untuk menghilangkan superoxide dan hidroxil radicals. Secara in Vitro, radikal superoxide mampu merusak asam hialuronat, kolagen dan proteoglikan sedang hydrogen peroxcyde dapat merusak kondrosit secara langsung. Dalam percobaan klinis dilaporkan bahwa pemberian obat ini dapat mengurangi keluhan – keluhan pada pasien OA. (1) (3)
Steroid intra – artikuler pada penyakit arthtritis rheumatoid menunjukkan hasil yang baik. Kejadian inflamasi kadang – kadang dijumpai pada pasien OA oleh karena itu kortikosteroid intra articular telah dipakai dan mampu mengurangi rasa sakit walaupun hanya dalam waktu yang singkat. Penelitian selanjutnya tidak menunjukkan keuntungan yang nyata pada pasien OA sehingga pemakaiannya masih kontroversial. (1) (3) (10)
Terapi Bedah
Terapi ini diberikan apabila terapi farmakologis tidak berhasil untuk mengurangi rasa sakit dan juga untuk melakukan koreksi apabila terjadi deformitas sendi yang mengganggu aktifitas sehari – hari. (1)
G.   DIAGNOSIS BANDING
1.     Artritis Rheumatoid
Artritis Rheumatoid (AR) ditandai oleh proses autoimun kronis yang mengakibatkan sinovitis inflamantorik sendi diartrodial. Penyakit AR paling sering menyerang wanita dan memiliki korelasi genetik yang kuat dengan haplotype HLA-DR4.  Inflamasi kronis menyebabkan bertambahnya hipertrofi synovial yang disebut sebagai Pannus pada tulang dan kartilago sehingga terjadi erosi pada sendi yang terkena.  Gambaran klinis secara khas pada AR mengenai sendi – sendi berukuran kecil hingga sedang ( sendi interfalangeal proksimal PIP ), sendi metakarpofalangeal (MCP), sendi pergelangan tangan, sendi pergelangan kaki dan sendi metatarsophalangeal (MTP). AR ditandai dengan rasa kaku pada pagi hari yang berlangsung lebih dari 1 jam tetapi mereda ketika sendi tersebut digunakan.  Keluhan sendi bersifat simetris dan dapat disertai dengan keluhan sistemik yang berupa ; Demam, fatique, atau anoreksia. Sendi yang terkena terlihat bengkak, nyeri tekan dan teraba hangat dengan berkurangnya lingkup gerak sendi tersebut. (2)(6)
Pada stadium lanjut, gejalanya didominasi oleh fibrosis dan kontraktur pada sendi tersebut. Secara khusus subluksasio sendi MCP dengan deviasi ulnaris jari –jari tangan sering ditemukan seperti halnya pula deformitas jari-jari tangan. Pasien AR sering menderita beragam gejala ekstra – aertikular. Kelemahan dan atrofi otot kerap kali ditemukan di dekat persendian yang sakit. Dua puluh persen pasien dapat memperlihatkan nodul – nodul rheumatoid yaitu ; Zona Jaringan nekrotik yang berada di bagian central dengan dikelilingi oleh sel-sel makrofag dan jaringan granulasi ; Gambaran ini terlihat pada bagian tubuh dengan tekanan mekanis. (6)
2.     Osteoporosis
Osteoporosis ( Pengeroposan tulang ) merupakan gangguan metabolik tulang dengan meningkatkan kecepatan reaborbsi tulang tetapi kecepatan pembentukannya berjalan lambat sehingga terjadi kehilangan massa tulang. Tulang yang terkena gangguan ini akan kehilangan garam – garam kalsium serta fosfat dan menjadi porous, rapuh, serta secara abnormal rentan terhadap fraktur. Osteoporosis dapat bersifat primer dan sekunder akibat penyakit dibaliknya seperti sindrom Cushing dan Hipertiroidisme. Gangguan ini terutama mengenai tulang vertebra yang menyangga beban tubuh. Hanya setelah keadaan tersebut bertambah parah atau lanjut seperti pada penyakit sekunder barulah terjadi perubahan yang serupa dalam tulang tengkorak, iga dan tulang – tulang panjang. Biasanya kaput femoris dan asetabulum pelvis terkena secara selektif. (3)
Osteoporosis primer seringkali disebut osteoporosis pascamenopause karena keadaan ini paling sering terjadi pada wanita menopause. Pemeliharaan densitas tulang merupakan keseimbangan antara pembentukan tulang ( aktifitas osteoblast ) dan reabsorbsinya ( aktivitas osteoklas ). Kedua komponen remodeling tulang yang kerjanya saling bertentangan ini berfungsi untuk memperbaiki mikrofraktur, mempertahankan kekuatan tulang skeletal dan mengatur kadar kalsium serum. Namun demikian setiap faktor yang mendorong kearah reabsorbsi yang melebihi pengendapan akan menyebabkan hilangnya keseluruhan massa tulang. (3)
3.     Gout
Gout merupakan istilah yang dipakai untuk sekelompok gangguan metabolik sekurang – kurangnya ada sembilan gangguan yang ditandai oleh meningkatnya konsentrasi asam urat ( Hiperuresemia ). Gout dapat bersifat primer maupun sekunder. Gout primer merupakan akibat langsung pembentukan asam urat tubuh yang berlebihan atau akibat penurunan ekskresi asam urat. Gout Sekunder disebabkan karena pembentukan asam urat yang berlebihan atau ekskresi asam urat yang berkurang akibat penyakit lain atau pemakaian obat – obatan tertentu. Gout jarang ditemukan pada perempuan. (2) Sekitar 95 % adalah laki – laki. Gout dapat ditemukan di seluruh dunia, pada semua ras manusia. Prevelansi familial dalam penyakit gout yang mengesankan suatu dasar genetik dari penyakit ini. Namun agaknya timbulnya penyakit ini dipengaruhi oleh diet, berat badan dan gaya hidup. (2)
Pada beberapa pasien gout atau yang dengan hiperuresemia asimptomatik Kristal asam urat ditemukan pula pada sendi metatasofalangeal dan lutut yang sebelumnya tidak pernah mendapat serangan akut. Dengan demikian gout ataupun pseudo gout dapat timbul pada keadaan asimptomatik. Pada beberapa penelitian didapatkan terdapat peranan temperature, PH dan kelarutan urat untuk timbulnya gout akut. Predileksi untuk pengendapan Kristal MSU pada metatarsophalangeal – 1 (MTP 1) berhubungan juga dengan trauma ringan yang berulang-ulang pada daerah tersebut. (1) (2)
H.   KOMPLIKASI
Komplikasi Osteoartritis meliputi :
     1). Perubahan sendi yang irreversibel dan pembentukan nodus ( nodus akhirnya berwarna merah, membengkak dan nyeri tekan disertai rasa baal dan gangguan gerakan jari – jari tangan.
    2).  Subluksasi sendi
    3).  Penurunan  kisaran gerak sendi
    4).  Kontraktur Sendi
    5).  Rasa nyeri ( yang pada stadium lanjut dapat menimbulkan disabilitas )
    6).  Kehilangan kemandirian dalam aktivitas hidup sehari – hari. (3)

I.      PROGNOSIS
Osteoartritis biasanya berjalan lambat. Problem utama yang sering dijumpai adalah nyeri apabila sendi tersebut dipakai dan meningkatnya ketidakstabilan menangggung beban, terutama pada lutut. Masalah ini berarti bahwa orang tersebut harus membiasakan diri dengan cara hidup yang baru. Cara hidup yang baru ini seringkali meliputu perubahan pola makan yang sudah terbentuk seumur hidup dan olahraga, manipulasi obat-obat yang diberikan dan pemakaian alat – alat pembantu.


KAJIAN ISLAM

Sesuatu yang tidak akan dipungkiri siapa pun adalah kehidupan ini tidak hanya dalam satu keadaan. Ada senang, ada duka. Ada canda, begitu juga tawa. Ada sehat, namun juga adakalanya sakit. Dan semua ini adalah sunnatullah yang mesti dihadapi orang manapun.
Di antara hal yang paling menarik dalam hal ini adalah di mana seorang manusia menghadapi ujian berupa sakit. Tentu keadaan sakit ini lebih sedikit dan sebentar dibanding keadaan sehat. Yang perlu diketahui oleh setiap muslim adalah tidaklah Allah menetapkan (mentaqdirkan) suatu taqdir melainkan di balik taqdir itu terdapat hikmah, baik diketahui ataupun tidak. Dengan demikian, hati seorang muslim harus senantiasa ridho dan pasrah kepada ketetapan Rabb-nya.
Saat seseorang mengalami sakit, hendaknya ia menyadari bahwa Rasulullah SAW yang merupakan manusia termulia sepanjang sejarah juga pernah mengalaminya.

Hiburan Untuk Orang yang Tertimpa Musibah
Agar sakit itu berbuah kebahagiaan, bukan keluh kesah, hendaknya seorang muslim mengetahui janji-janji yang Allah berikan, baik dalam Al Quran maupun melalui lisan Rasul-Nya, Muhammad SAW.
Allah Ta’ala berfirman :

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚوَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُون
Artinya:
Katakanlah (Muhammad), ‘Tidak akan menimpa kami kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang beriman harus bertawakal.’” (QS. At Taubah: 51).

Juga firman-Nya,
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (٢٢) لِكَيْلا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (٢٣)  

Artinya:
Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Al Hadid: 22-23)

Rasulullah SAW bersabda,:
 Tidaklah seorang muslim yang tertimpa gangguan berupa penyakit atau semacamnya, kecuali Allah akan menggugurkan bersama dengannya dosa-dosanya, sebagaimana pohon yang menggugurkan dedaunannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sesungguhnya besarnya pahala itu berbanding lurus dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Siapa yang ridha, baginya ridha(Nya), namun siapa yang murka, maka baginya kemurkaan(Nya).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Setiap Penyakit Pasti ada Obatnya
Hal lain yang seyogyanya diketahui oleh seorang muslim adalah tidaklah Allah menciptakan suatu penyakit kecuali Dia juga menciptakan penawarnya. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW

مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً
Artinya :
 Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia juga menurunkan penawarnya.” (HR Bukhari).

Imam Muslim ‘merekam’ sebuah hadits dari Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah SAW bahwasannya beliau bersabda,
لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءُ، فَإِذَا أُصِيْبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ
Artinya:
Setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat itu tepat untuk suatu penyakit, penyakit itu akan sembuh dengan seizin Allah ‘Azza wa Jalla.


Kesembuhan itu hanya Datang dari Allah
Allah berfirman menceritakan kekasih-Nya, Ibrahim ‘alaihissalam,

وَ إِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ
Artinya:
Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.” [QS Asy Syu’ara: 80]


Di surat Al An’am (ayat: 17)

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إِلا هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya:
 Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.”

  
DAFTAR PUSTAKA

1.     Joewono Soeroso, Harry Isbagio, Handono Kalim,  Rawan broto, Riardi Pramudiyo. 2009. Osteoartritis Dalam ; Sudoyo, A.W. Setiyohadi, B, alwi, I, Simadibrata, M dan setiati, S,. Eds. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta ; Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FK.UI, 2538 – 2549.

2.     Hartanto, H. Susi, N. Wulasari, P., Mahanani, D.A.2006. Osteoartritis. Dalam ; Patofisiologi ; Konsep Klinis Proses – Proses Penyakit. Jakarta ; Penerbit buku kedokteran EGC.

3.     Mayer.,Wels, Kowalak. 2011. Osteoatritis. Dalam ; Buku Ajar Patofisiologi, Jakarta ; Penerbit buku kedokteran EGC.

4.     www. Repository.Universitas Sumatera Utara. 2014. Osteoartritis.

5.     Kendal, KK. Tao, L. 2013. Osteoartritis. Dalam ; Sinopsis Organ System. Muskoleskeletal & Jaringan ikat. Pendekatan dengan sistem terpadu dan disertai kumpulan kasus klinik. Jakarta ; Karisma Pubhlising Group.

6.     Inawati. 2013. Department of Anatomical Patology. University Of Wijaya Kusuma Surabaya. Osteoartritis.


8.     “Osteoarthtritis “ American College of Rheumatology.June 2006.3May 2007. < http :/ www.rheumatology.org.public/factsheets./oa_new.asp.aud.pat

9.     National institute of Arthtritis and Musculoskeletal and Skin Disease ( NIAMS) Information.National htt : // www.niams.nih.gov

10.  Tanto. C. liwang.F. Hanifati.S. Pradipta.EA. 2014. Osteoartritis. Dalam : Kapita Selekta Kedokteran. Edisi IV. Jilid II. Media Aeculapius. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.



Komentar

Postingan populer dari blog ini