Langsung ke konten utama

Bersama, tapi tak selalu sama.




Peristiwa ini terjadi sebulan lalu. Tepatnya di hari sabtu. Setelah hari jum’at yang melelahkan karena harus mengikuti visit besar. Visit besar adalah kunjungan rutin ke pasien-pasien rawat inap bersama seluruh konsulen yang mengajari anak – anak koass di departemen yang mereka naungi. Visit besar harus disiapkan sebaik mungkin karena merupakan poin penilaian sebagai kelanjutan hidup anak koass. Selama visit berlangsung, konsulen akan menanyakan tentang penyakit yang diderita oleh pasien. Oleh karenanya sudah sangat mutlak seluruh koass ( Dokter Muda ) mengulang semua materi perkuliahan tentang penyakit yang diderita si pasien. Kira – kira begitulah sekilas tentang visit besar.
Hari itu sabtu, saya sedang tidak ada kegiatan perkoass-an sebut saja sedang OFF jaga dikarenakan telah menjelang akhir stase dan sudah punya junior minggu, yang artinya ujian sebentar lagi. Awalnya saya hanya ingin menghabiskan weekday ini di rumah saja dengan nonton TV dan selonjoran di kasur akan tetapi karena sedang jenuh dengan acara TV, toh tiap nonton TV kalau bukan Film anak sekolah yang berubah jadi serigala, ataukah reality show yang nyewa orang-orang buat ketawa -ketawa biar disangka programnya itu lucu padahal tidak sama sekali. Akhirnya saya memutuskan pergi ke Coffeeshop bertemu seorang teman lama, Kami janjian di Coffeshop yang tidak jauh dari rumah. Di sekitaran pengayoman. Selera kopiku sederhana ; Kopi, tambahan gula & kreamer  tapi tidak terlalu manis.
            Kopi memang memiliki rasa khas disetiap campurannya. Didominasi rasa pahit tetapi selalu menggoda untuk diseduh, juga debaran jantung karena efek kafein menjadi teman soreku kali ini. Beberapa jam sebelumnya saya pamit kepada suami untuk keluar rumah menikmati weekday tanpanya, memang terkesan curang baginya tapi dia tidak bisa ikut karena sedang lembur dan memang kami tidak sekota. Saya bilang akan bertemu kawan lama, menyelesaikan beberapa tugas dan ingin mencari jurnal - jurnal kedokteran terbaru sebagai referensi.
            Sehabis menyeruput kopi yang saya pesan, saya pun memesan makanan berat karena sebelum berangkat tadi saya belum makan siang, maka di rapel plus makan malam di sana. Dan kawan lama saya itu pun datang. Lama baru saya menyadari ternyata disana ada beberapa orang-orang yang saya kenal, kawan-kawan lama yang sedang menikmati waktu lowongnya. Saya tahu baik dengan mereka. Dengan alunan musik di coffeeshop itu kami pun mengobrol banyak hal. Di tengah-tengah percakapan, seorang teman saya itu bertanya “ Suami kamu mana ?” ia bertanya ringan sambil meneguk Ice lemon tea yang ia pesan.
“ Kerja “.. Jawab saya padanya.
“ Sabtu masih kerja ? Dia tau kamu malam minggu di sini ?".. 

“ Tau kok..

Ia tidak bertanya lagi setelahnya, hanya sebuah tatapan heran. Mungkin. Mengapa saya keluar malam minggu sendirian dan berhaha-hihi bersama kawan-kawan lama. Mungkin bagi mereka bagi pasangan yang habis menikah harus selalu ada suami tercintanya yang mendampingi setiap dia ingin keluar hangout di malam minggu.

Satu hal yang saya syukuri dari suamiku. Ia membiarkan saya memiliki hidupku sendiri. Mungkin kedengaran sederhana yang pada praktiknya tidak semua pasangan bisa melakukannya. Ia hampir tidak pernah melarang saya pergi dan bergaul bahkan tanpa keikutsertaannya. Tapi kadang-kadang dia juga senang hati menemani saya bila memang kehadirannya dia rasakan tidak akan menganggu suasana. Saya tidak ingin menjudge diri saya akan melakukan hal yang sama, karna sesekali saya juga ngambek kalau di tinggal sama dia diving dari pagi sampai sore dengan teman-temannya. Namun sebisa mungkin, saya memberi dia waktu untuk sendiri tanpa saya.
Bukan  karena membiarkannya menjadi lajang. Tapi dia juga berhak menikmati dirinya sendiri.

            Hubungan adalah 2 orang yang memilih untuk bersama. Dia suka menyelam, saya suka menulis. Saya tidak suka laut, pantai. Satu alasan sih, Panas ! Sesekali saya ikut kalau diajak olehnya berenang saat weekday. Terlepas dari itu semua, saya tetap mendukung kesukaannya meskipun tidak pernah ikut kalau dia sedang diving. Dia juga tidak pernah protes kalau saya harus keluar rumah mengikuti kegiatan menulis bersama teman-teman ataupun sekedar keluar malam minggu tanpanya bertemu kawan-kawan lama. Sederhananya kami saling memberikan keleluasaan untuk bersosialisasi sendiri tanpa ditemani oleh pasangan.

Karena untuk hidup bersama, tumbuh bersama, kesukaan & kegemaran tidaklah harus sama apalagi harus kemana-mana sama-sama.

@moccachinta 

Komentar

  1. sepakat, kesukaan & kegemaran tidaklah harus sama apalagi harus kemana-mana sama-sama. Kebetulan saja saya sama suamiku sehobi, ngeblog, makan2 dan jalan2 ditambah nda bisaka bawa motor sendiri, jadinya kemana2 ya sama2

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini